Monday, October 03, 2005

Shifat Shaum Nabi di Bulan Ramadhan

Oleh Naning Tri Wahyuni

Dari Abu Hurairah ia berkata: “Rasulullah bersabda: “Setiap amal manusia terdapat pahala yang terbatas kecuali puasa, sesungguhnya puasa adalah untukku dan aku yang membalasnya, dan puasa adalah perisai. Dan pada hari puasa janganlah kalian mengatakan atau melakukan perbuatan keji dan janganlah membuat gaduh, jika salah seorang kalian mencelanya atau membunuhnya maka hendaklah mengatakan: “Sesungguhnya aku sedang berpuasa”, demi Dzat yang jiwa Muhammad berada ditangannya benar-benar bau mulut orang yang berpuasa lebih harum disisi Allah dari bau kasturi, bagi orang yang berpuasa ada dua kegembiraan yang ia gembira dengan keduanya: jika berbuka ia gembira, dan jika bertemu Allah dengan puasanya ia gembira”. (Hadits riwayat Bukhari dan Muslim)

************************************************************************************
I. Keutamaan Puasa
a. Puasa adalah perisai
“Puasa adalah perisai, dengannya seorang hamba terjaga dari api neraka” (HR Ahmad)
b. Puasa memasukkan ke syurga
Dari Abu Umamah, ia berkata: “aku bertanya,“ Wahai Rasulullah tunjukkan kepadaku suatu amal yang memasukkanku ke syurga”, Nabi bersabda: “Hendaknya engkau berpuasa, tiada yang menyamainya”. (HR Nasai, ibnu Hibban, dan Hakim dan sanadnya shahih)
c. Orang yang berpuasa mendapatkan pahala tanpa hisab
d. Bagi orang yan berpuasa ada dua kegembiraan
e. Bau mulut orang yang berpuasa lebih harum disisi Allah dari bau kasturi
Dalil-dalil untuk (c),(d), dan (e), Hadist riwayat Bukhari dan Muslim diatas.
f. Puasa dan Al Qur’an akan memberi syafaat orang yang mengamalkannya (HR Ahmad & Hakim).
g. Puasa adalah kaffarah (penghapus dosa)
Dari Hudzaifah bin Yaman ia berkata, Rasulullah bersabda: “Fitnah laki-laki pada keluarganya, hartanya, anaknya, tetangganya, dihapuskan oleh shalat, puasa dan sedekah”. (HR Bukhari dan Muslim)
h. Pintu syurga yang bernama Ar Rayyan bagi orang yang berpuasa (HR Bukhari dan Muslim)
II. Keutamaan Bulan Ramadhan
a. Bulan Al Qur’an (Al Baqarah: 185)
b. Dibelenggunya Syaitan. “Jika telah tiba bulan Ramadhan, dibukalah pintu-pintu syurga, ditutuplah pintu-pintu neraka, dan dibelenggulah syaitan-syaitan”.(HR Bukhari dan Muslim)
c. Lailatul Qadr

III. Wajibnya puasa Ramadhan
Barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan maka itulah yang lebih baik darinya.Dari keutamaan-keutamaan bulan Ramadhan diatas, Allah mewajibkan puasa Ramadhan atas kaum muslimin, dan oleh karena memutuskan jiwa dari syahwatnya dan menutup jiwa dari keinginan-keinginan syahwat adalah perkara yang paling berat, maka diakhirkanlah wajibnya puasa Ramadhan hingga sampai tahun kedua hijriyah. (Albaqarah: 183-185)
IV. Anjuran dengan sangat untuk berpuasa pada bulan Ramadhan
a. Diampuninya dosa-dosa
Dari Abu Hurairah, dari Nabi, beliau bersabda : “Barangsiapa berpuasa Ramadhan karena iman dan mengharapkan pahala, diampuni dosanya yang telah lalu” (HR Bukhari dan Muslim)
b. Dikabulkannya do’a
“Sesungguhnya milik Allah-lah hamba-hamba yang dibebaskan dari neraka pada setiap hari dan malam pada bulan Ramadhan, dan sesungguhnya bagi setiap muslim terdapat doa yang dia berdoa dengannya lalu dikabulkan baginya”.
c. Termasuk dalam golongan “siddiqin” (orang-orang yang benar)
“Dari Amru bin Murrah Al juhni ia berkata : “Datang seorang laki-laki kepada Nabi”, lalu ia bertanya : “Wahai Rasulullah bagaimana pendapatmu jika saya bersaksi bahwa tiada sesembahan yang berhak disembah melainkan Allah, dan bahwasanya engkau adalah Rasulullah, dan saya mengerjakan shalat lima waktu, dan saya (juga) menunaikan zakat, dan saya berpuasa pada bulan Ramadhan dan menunaikannya, maka termasuk kelompok manakah aku ini? Beliau bersabda: “Termasuk dari kalangan siddiqin dan orang-orang yang mati syahid”. (HR Ibnu Hibban dan sanadnya shahih)
V. Ancaman bagi orang yang tidak berpuasa dengan sengaja
Dari Abu Umamah Al Bahili, ia berkata: saya mendengar Rasulullah bersabda : “Ketika saya tidur datang dua orang lelaki lalu ia memegang lenganku, lalu keduanya mendatangkan gunung besar padaku, kemudian keduanya berkata : “Naiklah!” maka aku katakan: “Aku tidak mampu menaikinya”. Lalu keduanya berkata: “Akan kami mudahkan bagimu menaikinya”. Lalu akupun menaikinya, hingga aku sampai pada puncak gunung tiba-tiba terdengar suara keras. Aku bertanya: “Suara apakah ini? Mereka menjawab: “Ini adalah lolongan penghuni neraka”. Lalu aku dibawa, tiba-tiba aku mendapati suatu kaum terbelenggu urat-urat mereka, robek rahang-rahang mereka, mengucur darah dari rahang-rahang mereka”. Ia berkata: Aku bertanya: “Siapa mereka itu?” ia menjawab: mereka adalah orang-orang yang tidak berpuasa sebelum selesai puasa mereka”. (HR Nasai, Ibnu Hibban)
VI. Hukum-Hukum Berpuasa
Hukum-hukum puasa sesuai dasar Al Qur’an dan Hadits-hadits Nabi yang shahih dan hasan adalah sebagai berikut:
a. Menghitung bulan sya’ban menjelang ramadhan
Sepatutnya bagi umat Islam untuk menghitung jumlah hari bilangan sya’ban untuk persiapan menghadapi bulan Ramadhan, karena bulan (dalam perhitungan tahun qamariah) ada yang 29 hari dan ada yang 30 hari. Maka hendaknya umat Islam berpuasa ketika melihat hilal, jika hilal tertutupi awan maka hendaknya umat Islam menentukan dan menyempurnakan bulan sya’ban menjadi 30 hari, karena Allah menciptakan langit dan bumi menjadikan tempat-tempat perjalanan bagi bulan agar manusia mengetahui perhitungan tahun, dan satu bulan itu tidak lebih dari 30 hari.
b. Wajibnya berniat pada malam hari
Jika telah pasti bulan Ramadhan datang, dengan terlihat oleh mata, atau persaksian, atau penyempurnaan bulan sya’ban menjadi tiga puluh hari, maka wajib bagi setiap muslim yang sudah terbebani untuk menjalankan syariat agama untuk berniat pada malam harinya, hal ini berdasarkan sabda Nabi: “Barangsiapa tidak berniat berpuasa pada malam hari maka tiada baginya puasa”(dikeluarkan Nasai dan Tirmidzi)
c. Kemampuan bergantung pada pembebanan
Barangsiapa mendapati bulan Ramadhan dan ia tidak mengetahui, lalu ia makan dan minum kemudian ia mengetahui, maka hendaknya ia menahan diri untuk tidak makan dan minum dan meneruskan puasa, dan puasanya dianggap sah. Dan barangsiapa yang belum makan maka hendaknya tidak makan, dan (dalam hal ini) menetapkan niat pada malam hari tidaklah menjadi syarat pada haknya karena ia tidak mampu, dan termasuk dari ushul syariah bahwa kemampuan itu bergantung pada pembebanan. (HR. Bukhari Muslim dari Aisyah, juga dari Salamah Bin Al Akhwaq)
VII. Waktu berpuasa
a. Tampaknya benang putih atas benang hitam
Ketika turun ayat: “Dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam”. (Al Baqarah: 187)
Rasulullah bersabda tentang ayat diatas:”Sesungguhnya yang dimaksud hal itu adalah gelapnya malam dan putihnya siang”. (HR Bukhari Muslim)
(Harus berhati-hati tentang pengertian fajar shodiq dan fajar kadzib. Fajar yang dijadikan patokan adalah fajar shodiq. Dari Ibnu Abbas ia berkata: Rasulullah bersabda: “Fajar itu ada dua, adapun yang pertama tidak mengharamkan makanan dan tidak menghalalkan shalat, adapun kedua maka mengharamkan makanan dan menghalalkan shalat. (Dikeluarkan oleh Ibnu Khuzaimah, Al Hakim, Daraqutni, Albaihaqi). Fajar Kadzib adalah warna putih memanjang bersinar diatas seperti ekor serigala. Fajar Shodiq adalah warna merah yang bersinar tersebar, yang melintang diatas puncak bukit-bukit dan gunung-gunung , tersebar dijalan-jalan, gang-gang, rumah-rumah, dan inilah yang berhubungan dengan hukum-hukum puasa dan shalat).
b. Menyempurnakan puasa hingga malam (berbuka)
Dan jika malam menghadap dari arah timur dan membelakangi siang dari arah barat, dan matahari tenggelam maka berbukalah. Dari Umar bin Khattab ia berkata, Rasulullah bersabda: “Jika malam menghadap dari sini, dan membelakangi dari sini. Dan matahari tenggelam maka orang yang berpuasa berbuka”. (Hadits riwayat Bukhari dan Muslim)
Menyegerakan berbuka mendatangkan kebaikan, Dari Sahl bin Sa’ad bahwasanya Rasulullah bersabda: “Senantiasa umatku dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka” (Hadits riwayat Bukhari dan Muslim)
Dari Anas bin Malik ia berkata: “Adalah Rasulullah berbuka dengan Rutab (kurma yang lembek) sebelum shalat, jika tidak terdapat rutab, maka beliau berbuka dengan tamr (kurma kering), maka jika tidak ada kurma kering beliau meneguk seteguk air”. (Hadits riwayat Ahmad dan Abu Dawud)
c. Waktu sahur dan hikmahnya
Sahur adalah perintah yang muakkad (kuat) dari rasulullah. Adapun sahur adalah pembeda puasa kaum muslim dengan ahli kitab yang dulu juga diwajibkan atasnya puasa (HR Muslim).
Sahur itu barakah. Dari Salman, ia berkata, Nabi bersabda: “Barakah itu terdapat dalam tiga perkara , Al jamaah, tepung Tsarid dan sahur”. (Hadits riwayat Thabrani)
Sesungguhnya Allah dan malaikatnya bershalawat atas orang yang berpuasa, Dari Abu Said Al Khudri ia berkata, Rasulullah bersabda: “Sahur adalah makanan berbarakah, maka janganlah kalian meninggalkannya walaupun hanya meminum seteguk air, karena sesungguhnya malaikat-Nya bershalawat atas orang-orang yang bersahur”. (Hadits riwayat Tirmidzi)
Dianjurkan mengakhirkan sahur hingga mendekati fajar, karena Nabi dan Zaid bin tsabit bersahur, tatkala selesai dari sahur keduanya, Nabi bangkit pergi untuk shalat, lalu beliau shalat, dan adalah waktu antara keduanya makan dan melaksanakan shalat seperti ukuran seseorang yang membaca 50 ayat Al Qur’an”.
Anas telah meriwayatkan dari Zaid bin Tsabit, bahwa ia berkata: “Kami bersahur bersama Nabi , lalu beliau bangkit untuk shalat”. Aku bertanya: “Berapa ukuran antara adzan dan sahur? Ia berkata: “Seukuran 50 ayat”. (Hadits riwayat Bukhari dan Muslim)

VIII. Apa Saja Yang Wajib Ditinggalkan Oleh Orang Yang Berpuasa
a. Perkataan dusta
Dari Abu Hurairah ia berkata, Rasulullah bersabda: “Barangsiapa tidak meninggalkan perkataan dusta dan melakukannya maka Allah tidak membutuhkan bahwa ia meninggalkan makanan dan minumannya”. (HR. Bukhari)
b. Berbuat yang sia-sia dan melakukan tindakan serta ucapan keji
Dari Abu Hurairah ia berkata, Rasulullah bersabda: “Bukanlah puasa itu puasa dari makan dan minum, sesungguhnya puasa itu adalah puasa dari perbuatan sia-sia dan keji, maka jika salah seorang mencelamu atau membodohkanmu maka katakanlah aku sedang berpuasa, aku sedang berpuasa”. (HR Ibnu Huzaimah dan Hakim dengan sanad shahih)
IX. Apa Saja Yang Diperbolehkan Bagi Orang Yang Berpuasa
a. Orang yang sedang berpuasa diwaktu subuh dalam keadaan Junub
Dari Aisyah dan Umu Salamah: “Bahwasanya Nabi dalam keadaan junub diwaktu subuh karena habis berkumpul dengan keluarga beliau lalu beliau mandi dan berpuasa”. (HR Bukhari dan Muslim)
b. Bersiwak bagi orang yang berpuasa
Rasulullah bersabda: “Kalaulah tidak memberatkan atas umatku tentulah akan aku perintahkan mereka untuk bersiwak pada setiap kali wudhu”. (HR Bukhari dan Muslim)
c. Berkumur dan menghirup air kehidung
Karena dahulu Rasulullah berkumur dan menghirup air kehidung dalam keadaan berpuasa , akan tetapi beliau melarang orang yang sedang berpuasa untuk berlebih-lebihan.
“…dan bersungguh-sungguhlah dalam menghirup kecuali jika dalam keadaan berpuasa”. (HR. tirmidzi, Abu Daud, dll)
d. Bersentuhan dan berciuman bagi orang yang sedang berpuasa
Disebutkan dalam hadits dari Aisyah bahwa ia berkata: “Adalah Rasulullah dahulu mencium sedang beliau dalam keadaan berpuasa, akan tetapi beliau adalah orang yang paling mampu menguasai dirinya”. (HR. Bukhari dan Muslim)
Dan hal ini makruh (dibenci) bagi pemuda, dan tidak makruh untuk orang yang sudah tua. Diriwayatkan dari Amru bin Ash, ia berkata: “Dahulu tatkala kami bersama Nabi datang seorang pemuda, lalu ia berkata : “Wahai Rasulullah apakah saya (boleh) mencium sedang saya dalam keadaan berpuasa? Beliau berkata: “Tidak”. Lalu datanglah seorang yang sudah tua, bertanya: “Apakah saya boleh mencium sedang saya dalam keadaan berpuasa? Beliau menjawab : “Ya”. Amru bin Ash berkata: “lalu sebagian kami melihat sebagian lainnya”, maka Rasulullah bersabda : “Sesunggunya orang yang sudah tua mampu menguasai dirinya”. (Dikeluarkan Ahmad)
e. Donor darah dan suntik yang tidak dimaksudkan memberi zat makanan.
f. Berbekam
“Bahwasanya Nabi berbekam sedang beliau dalam keadaan berpuasa”. (Hadits riwayat Bukhari)
g. Merasakan makanan
Dan hal ini dibatasi dengan tidak masuk kerongkongan, sebagaimana disebutkan dari Ibnu Abbas ia berkata: “Tidak mengapa seseorang merasakan makanan atau sesuatu selama tidak masuk kerongkongan sedang ia dalam keadaan berpuasa”.
h. Bercelak dan meneteskan sesuatu kemata
Hal-hal yang demikian tidak membatalkan puasa, baik sesuatu yang masuk mata itu masuk kerongkongan maupun tidak masuk. Pendapat inilah yang dikuatkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam tulisan beliau yang bermanfaat “Hakikatus Shiyam” dan murid beliau Ibnul Qayyim Al Jauziyah dalam kitabnya “Zaadul Ma’ad” dan Imam Bukhari berkata dalam shahih Bukhari.

i. Menuangkan air dingin diatas kepala dan mandi
Berkata Imam Bhukari dalam shahih beliau: “Bab Mandinya orang yang sedang berpuasa”, dan Ibnu Umar radhiyallahuanhuma membasahi pakaian, lalu ia meletakkannya diatasnya. Dan As Sa’bi memasuki kamar mandi sedang ia dalam keadaan berpuasa, dan berkata Al Hasan: “Tidak mengapa berkumur dan berdingin-dingin bagi orang yang sedang berpuasa
X. Allah Menghendaki Kemudahan Bagimu
a. Orang yang sedang bepergian
“Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu”. (Al Baqarah: 185)
Bertanya Hamzah bin Amru Al Aslami kepada Rasulullah: “Apakah saya berpuasa di perjalanan ? (dan Hamzah ini adalah sahabat yang banyak berpuasa), maka Rasulullah bersabda: “Berpuasalah jika engkau mau dan berbukalah jika engkau mau?” (Hadits riwayat Bukhari dan Muslim)
b. Orang yang sakit
Allah membolehkan bagi orang yang sakit untuk tidak berpuasa sebagagai rahmat darinya, dan kemudahan baginya. Dan sakit yang diperbolehkan untuk tidak berpuasa adalah yang mengakibatkan (bersama puasa) bahaya bagi jiwa,atau bertambahnya penyakit baginya, atau dikhawatirkan terlambatnya kesembuhan, dan wallahu a’alam
c. Wanita yang haid dan nifas
Ahli ilmu bersepakat bahwa wanita yang sedang haid dan nifas tidak dihalalkan baginya berpuasa, dan harus meng-qadha’nya di hari lain.
d. Orang yang sudah lanjut usia dan wanita yang sudah tua
Berkata Ibnu Abbas semoga Allah meridhainya: “Orang yang lanjut usia dan perempuan tua yang tidak mampu berpuasa hendaknya memberi makanan setiap hari satu orang miskin”.

Dari Abu Hurairah: “Barangsiapa yang sudah berusia lanjut dan tidak mampu berpuasa Ramadhan, maka wajib baginya (menyedahkan) satu mud dari gandum tiap hari”. (dikeluarkan Daraqutni)

Dari Anas bin Malik: “bahwasanya suatu tahun ia lemah untuk berpuasa,maka ia membuat satu mangkuk tepung tsarid dan memanggil 30 orang miskin dan ia mengenyangkan mereka”. (dikeluarkan Daraqutni dan sanadnya shahih)

e. Wanita yang hamil dan menyusui
Dari besarnya rahmat Allah kepada hamba-Nya yang lemah bahwasanya Allah meringankan bagi mereka untuk tidak berpuasa, dan termasuk dari golongan hamba-Nya yang lemah adalah wanita hamil dan menyusui . Dari Anas bin Malik (ia adalah Al Ka’bi dan bukan Anas bin Malik Al Ansari, pelayan Rasulullah, ia dari bani Abdullah bin Ka’ab, ia tinggal di Basrah da meriwayatkan dari Nabi satu ahdits saja, yaitu hadits ini) ia berkata: “Kuda Rasulullah berjalan kepada kami, lalu aku datangi Rasulullah, maka aku dapati beliau sedang makan siang. Lalu beliau berkata : “Kemarilah dan makanlah”, maka aku katakan: “Saya sedang berpuasa”. Lalu beliau berkata: “Mendekatlah kemari, akan aku ceritakan kepadamu tentang puasa; sesungguhnya Allah tabaraka wata’ala meletakkan (hukum) bagi musafir (orang yang sedang bepergian) setengah shalat, dan bagi orang yang hamil dan menyusui puasa. Demi Allah sungguh Nabi telah mengatakan keduanya atau salah satu dari keduanya, oh mengapa aku tidak makan makanan Nabi (pada saat itu).(Hadits riwayat Tirmidzi, Nasai, Abu Daud dan Ibnu Majah).
XI. Doa Apa Yang Dibaca Ketika Berbuka
Dari Abu Hurairah dari Nabi: “Ada tiga hal yang tidak tertolak doa mereka : orang yang berpuasa hingga ia berbuka, dan imam yang adil, dan doa orang yang terdholimi”. (Hadits riwayat Tirmidzi, Ibnu Majah, Ibnu Hibban)
Dan doa yang paling utama adalah doa Nabi yang mana beliau berdoa dengan doa ini ketika berbuka: “Telah hilang haus dahaga, dan telah terbasahi kerongkongan, dan telah tetap pahalanya insya Allah”. (Hadits riwayat Abu Daud, Baihaqi, dan hakim dll)
XII. Memberi Makanan Orang Yang Berpuasa
Rasulullah bersabda :
“Barangsiapa memberi buka puasa kepada orang yang sedang berpuasa maka ia mendapatkan pahala seperti pahalanya orang yang berpuasa dengan tidak mengurangi pahala orang berpuasa sedikitpun”. (Hadits riwayat Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ibnu Hibban dan menshahihkannya Tirmidzi).
XIII. Hal-Hal Yang Merusakkan Puasa
a. Makan dan minum secara sengaja
“Jika seseorang lupa lalu makan dan minum maka hendaklah menyempurnakan puasanya, karena sesungguhnya Allah telah memberi makan dan minum kepadanya”. (Hadits riwayat Bukhari dan Muslim)
b. Menyengaja untuk muntah
Karena barangsiapa yang muntah tidak sengaja tidak mengapa. Rasulullah bersabda: “Barangsiapa muntah dengan tidak disengaja maka ia tidak wajib mengganti puasanya, dan barangsiapa yang sengaja untuk memuntahkan hendaknya mengganti puasanya”. (Hadist riwayat Abu Daud, Tirmidzi dan Ibnu Majah).
c. Haid dan Nifas
Jika perempuan haid atau nifas pada siang hari baik awal siang ataupun pada akhir siang (sore) maka batal puasanya, Rasulullah bersabda: “Bukankah jika perempuan haid tidak shalat dan tidak berpuasa? Mereka (wanita-wanita ) berkata: “Benar” lalu Nabi berkata: “Itulah dua kekurangan agama kaum wanita”. (HR.Bukhari)
d. Suntikan gizi
Yaitu memasukkan sebagian zat-zat gizi makanan ke usus dengan maksud memberi gizi sebagian orang yang sakit, hal ini adalah satu macam perbuatan yang membatalkan puasa karena memasukkan kedalam rongga. Dan jika suntikan tidak mencapai usus dan hanya mencapai darah maka juga membatalkan puasa, karena hal ini keadaannya seperti makanan dan minuman.
e. Jima’ (melakukan hubungan suami istri)
Berkata Ibnul Qoyyim dalam kitab “Zaadul Maad” 2/60: Al Qur’an menunjukkan bahwa jima’ membatalkan puasa seperti makan dan minum, (hal ini) tidak diketahui adanya perselisihan padanya”.


XIV. Mengqadha (mengganti puasa)
a. Diperbolehkannya mengakhirkan dalam mengganti puasa Ramadhan
Mengqadha (mengganti) puasa Ramadhan tidak wajib dilakukan dengan segera, sesungguhnya hal ini luas dilaksanakannya, sebagaimana hadits riwayat Aisyah: “Adalah aku punya hutang puasa Ramadhan, tidaklah aku mampu menggantinya kecuali pada bulan sya’ban”. (Hadits riwayat Bukhari dan Muslim)
b. Tidak wajib dikerjakan secara berturut-turut
Berdasarkan firman Allah: “Maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain”. (Al Baqarah: 185)
Berkata Ibnu Abbas: “Tidak mengapa untuk disela-selahi dalam mengganti puasa Ramadhan”. (Hadits riwayat Bukhari, dan Bukhari tidak menyebutkan sanadnya, dan dijelaskan sanadnya oleh Abdurrazaq, Daraqutni,dan Ibnu Abi Saibah dengan sanad shahih)
c. Barangsiapa yang meninggal dan ia mempunyai nadzar berpuasa
Barangsiapa yang meninggal dan ia mempunyai puasa nadzar maka walinya mengganti puasanya, berdasarkan sabda Rasulullah: “Barangsiapa yang meninggal dan ia mempunyai hutang puasa maka walinya menggantikannya”. (Hadits riwayat Bukhari dan Muslim)
Dan dari Ibnu Abbas ia berkata, datang seorang lelaki kepada Nabi lalu bertanya: “Wahai Rasulullah sesungguhnya ibuku meninggal dan ia mempunyai hutang puasa sebulan, apakah aku harus menggantikannya berpuasa? Nabi menjawab: “”ya”, hutang kepada Allah lebih berhak untuk dibayar”. (Hadits Bukhari dan Muslim)
Adapun cara menggantikannya adalah dengan berpuasa sejumlah hari hutang bila itu puasa nadzar, adapun untuk puasa ramadhan bisa diganti dengan fidyah. Begitu pendapat yang shahih dari jumhur ulama.
d. Memberi makan
Dan barangsiapa yang meninggal dan ia mempunyai hutang puasa nadzar dan digantikan oleh beberapa orang lelaki untuk mengganti puasanya mayit maka diperbolehkan, berkata Al Hasan Al Basri: “”Jika mengganti puasa mayit itu 30 orang lelaki dan setiap orang berpuasa satu hari maka diperbolehkan”.(Bukhari)
Adapun memberi makan jika wali mayit mengumpulkan orang-orang miskin sejumlah hari hutang puasa mayit dan mengenyangkan mereka maka diperbolehkan. Demikianlah yang dilakukan Anas bin Malik.
XV. Kaffarah (tebusan karena melakukan pelanggaran)
a. Kaffarah karena jima, secara berurutan
Kaffarah seorang yang melanggar puasa karena jima (pada siang hari bulan Ramadhan) adalah: membebaskan budak, jika tidak terdapat budak maka puasa dua bulan berturut-turut, jika tidak mampu maka memberi makan 60 orang miskin.
b. Orang yang lemah gugur kaffarahnya
c. Wanita tidak wajib melaksanakan kaffarah
Kaffarah tidak wajib bagi perempuan, karena Nabi diberitahu tentang perbuatan yang terjadi antara seorang lelaki dan perempuan, dan beliau tidak mewajibkan kecuali satu kaffarah saja (yaitu kepada laki-laki).
(Hadist yang diriwayatkan Abu Hurairah)
**************************************************************************************
Maraji':
Diringkas dari kitab “Shifat Shaum Nabi fii Ramadhan”. Syaikh Ali Hasan dan Syaikh Salim Al-Hilali
Baca juga: “Zaadul Ma’ad”, Ibnul Qayyim Al-jauziyah; “Minhajul Qhasidin”, Ibnu Qudamah; dll.

Disampaikan pada pengajian akhowat KPII-UNSW, 2 Oktober 2005. Naning Tri Wahyuni. Menjelang ramadhan. Sydney Oct ’05

Konsep Ilmu Ekonomi dan Aplikasinya dalam keluarga

Materi Pengajian Akhwat 18 Sept 2005

Oleh: Ibu Femmy Roeslan *

Definisi : Ilmu Ekonomi yaitu the branch of knowledge concerns with production, consumption and the transfer of wealth.

Jadi ada 3 topik utama dalam ilmu ekonomi yaitu:
- produksi
- konsumsi
- transfer of wealth

Cakupan Ilmu ekonomi
1. Mikro Ekonomi
Yaitu cabang ilmu ekonomi yang membahas perilaku (behaviour) dari unit-unit ekonomi (konsumen, perusahaan, pekerja dan investor) dan pasar dimana para pelaku ekonomi berinteraksi.

2. Makro Ekonomi
Yaitu cabang ilmu ekonomi yang membahas agregat (total) dari
- Pendapatan percapita (pendapatan rata-rata)
- Laju pertumbuhan (mengukur kesejahteraan)
- Laju inflasi : perubahan harga-harga secara agregat
- Tingkat bunga
- Tingkat pengangguran
Scopenya lebih luas bisa negara, daerah atau propinsi dsb. tetapi arahnya tidak ke individu. Sednang Mikro Ekonomi fokusnya ke konsumen.

Konsumen dan produsen berinteraksi melalui mekanisme pasar. Pasar (Market) dalam ilmu ekonomi tidak selalu berasosiasi langsung dengan tempat dan sedikit berbeda dengan pengertian umum tentang pasar (seperti pasar baru, pasar senen, pasar minggu dsb). Di dalam pasar ada konsumen (pembeli), produsen (penjual), transaksi (pertukaran) dengan menggunakan alat tukar (uang). Dengan demikian pasar dapat terjadi dimana saja dan
kapan saja tanpa dibatasi oleh tempat atau lokasi atau geografis dan waktu. Contoh: E-bay, transaksi di tempat pengajian, arisan, dll.
Sebelum di temukan alat tukar (uang), transaksi (perdagangan) dilakukan secara barter. Namun cara ini memiliki banyak kendala dan keterbatasan.

Basic concepts dalam pembahasan perilaku konsumen berdasarkan:
- wants & needs (Kebutuhan & Keinginan). Kebutuhan merupkan sesuatu yang pemenuhannya sangat diutamakan/mutlak contohnya makan, minum dsb. Sedangkan keinginan jikalau tidak dipenuhi tidak menimbulkan masalah karena bukan yang utama, contoh keinginan membeli tas yang cantik, pakaian yang mahal dsb.
- Preferensi (asal kata prefer)
- Utility (kepuasan/hasil): ukuran untuk mengukur konsumsi terhadap barang & jasa. Seperti Cardinal Vs Ordinal, lalu ada Diminishing Marginal Utility
- Budget constraints
Setiap individu memiliki constraint/kendala dalam hal pendapatan, usaha, modal.
Disisi lain, setiap individu memiliki kebutuhan (needs) yang sedemikian banyak. Bagaimana solusinya?
Optimisasi: consumer choice
Untuk itu konsumen harus bisa membuat pilihan. Pilihan yang bagaimana? Tentunya pilihan yang optimal. Sampai saat ini masih banyak beredar pendapat yang kurang tepat berkenaan dengan optimisasi ini.

Konsep optimal dalam ilmu ekonomi adalah Maksimum Utility atau minimum cost. Konsumen dapat memaksimumkan utility/hasil dengan income/usaha/modal tertentu atau konsumen dapat pula meminimumkan biaya usaha/modal dengan hasil tertentu. Dengan demikian ilmu ekonomi tidak mengenal konsep maksimum hasil dengan minimum biaya/usaha.

Contoh Aplikasi dalam mendidik anak-anak. Jika kita ingin memperoleh hasil yang terbaik kelak (memaksimalkan output: anak), menjadi anak yang sholeh, sehat, cerdas dan pintar. Dalam hal ini orang tua tak bisa melakukan dengan usaha/modal yang minimal. Usaha/modal disini tidak harus berasosiasi dengan uang/materi. Tetapi lebih cenderung kepada iman dan ilmu pengetahuan sebagai orang tua. Proses menjadi orang tua tidak dimulai sejak anak lahir, tetapi dimulai jauh sebelum itu. Proses belajar (mencari ilmu) tadi akan terus berlanjut ketika pernikahan sudah dilaksanakan dan ketika merencanakan untuk punya anak, maka calon orang tua diharapkan untuk mempersiapkan diri secara fisik, mental dan material karena proses mendidik anak sudah dimulai sejak janin didalam rahim ibu. Proses tersebut berlanjut ketika
bayi lahir, kemudian menjadi besar (infant, usia sekolah, remaja dan dewasa). Mungkin proses mendidik anak baru selesai manakala orang tua sudah mengantarkan anak-anaknya menjadi individu yang sukses di hadapan Alloh Swt serta mendapatkan jodoh yang diridloi Alloh Ta’ala.

Untuk mendapatkan hasil yang maksimal tersebut, nampaknya tidak bisa dilakukan dengan usaha/modal yang seadanya/minimal. Dalam hal ini orang tua khususnya ibu harus senantiasa belajar baik itu ilmu akhirat maupun ilmu dunia, untuk mengasah iman dan ilmu agar memiliki modal yang memadai di dalam mendidik anak-anak seperti dalam salah satu firman Alloh Swt yang artinya sbb:
“(Apakah kamu hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadat di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada azab akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakanlah: 'Adakah sama orang-orang yang mengetahui?”
Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran.'” (QS Az Zumar, Ayat 9)

*) Dosen Ekonomi Internasional, UI, Jakarta

Thursday, September 15, 2005

Image

Materi Pengajian Akhwat
Ahad,21 Agustus 2005
Oleh: Ibu Popy Rufaidah*

Image berasal dari bahasa latin yaitu imago yang artinya picture/gambar. Image sering juga diartikan sebagai artifact yang menghasilkan kemiripan akan sesuatu subject danbiasanya object fisik atau organisasi.

Image atau citra dapat pula dikatakan sebagai persepsi atau pandangan, penilaian, gambaran seseorang akan sesuatu, misalnya:

* gambaran terhadap anda sendiri (self image)
* country image
* religion image


Kita ambil contoh Image of George Bush,

* dimata orang Amerika George Bush adalah ulama mereka
* dimata muslim, George Bush adalah international terrorist


Begitupula image of Islam in a multicultural country bisa beragam, ada yang memandang positif, namun adapula menganggap sebagai ancaman.

Berikut dua pandangan berbeda dari non muslim convert to Islam played key coordinator:

Seorang wanita muslim memilih melepas kerudung dikarenakan takut kehilangan pekerjaan, atau tidak confidence bakal dapat perkerjaan. Ini kasus yang sangat menyedihkan. Ketakutan muslimah itu mengalahkan kebanggaan sebagai muslim.

On the other hand, Silma Ihram said that by converting ourselves up, we are asking to be appreciated for our personality, rather than our physical features. She is one of the founder Nour Al Houda Islamic College. She also said that as a muslim we need to learn to answer people’s question about Islam very confidently and politely.

Because by satisfying their curiousity in a position way, they are actually doing da’wah or promoting the goal of their religion.

Why muslims do not proud of their identity?
Mind contaminated --> not proud of our identity (Islam) <-- Self esteem decreased

Self esteem: the opinion you have of yourself.

It is based on your attitude to the following:

* your value as a person
* the job you do
* your achievement
* how you think others see you
* your purpose in life
* your place in the world
* your potential for success
* your strengths and weaknesses
* your social status and how you relate to others
* your independence


Charateristics of how self esteem among muslim:

* social withdrawal
* lack of social skills & self confidence
* reluctance to take on challenge
* less social comformity
* reluctance to trust your own opinion


How to get proud of Islam?

Mind Management --> Proud of Islam <-- Building self esteem

Hal-hal yang sebaiknya dihindari:

* hindarkan bad self image (citra diri yang negative)


Tanpa disadari oleh kita setelah berpuluh tahun menjalani hidup ini, kita dihinggapi oleh cara pandang negative.

* hindarkan bad experience

Pengalaman buruk yang menimpa dalam perjalanan hidup seseorang yang mengakibatkan persepsi negative dalam berperilaku

* hindarkan bad partner

keadaan dimana anda salah memilih teman atau pasangan.
Pepatah mengatakan: “ketika anda memilih teman, itu akan menggambarkan siapa anda sebenarnya.”

* hindarkan “bad environment”

Lingkungan/komunitas dimana anda berinteraksi sangat berpengaruh.

Some steps on building our self esteem:

* enter different community
* involved in organization
* willing to take on challenge
* take additional course/education
* dare to be a presenter


Semoga kita semua dapat segera membangun rasa percaya diri kita dengan berbagai langkah diatas. Insha Alloh seiring dengan tumbuhnya rasa percaya diri yang kuat maka semakin membuat kita bangga sebagai seorang muslim.

*) Dosen Unpad & Kandidat Phd di UNSW

Breast Cancer, Be Aware!

Materi Pengajian Akhwat
Ahad, 7 Agustus 2005

By: Dr Dyah Mustikaning PP

Breast Profile: (please refer to the picture below)





a. Ducts
b. Lobules
c. dilated section of duct to hold milk
d. nipple
e. fat
f. pectoralis major muscle
g. chest wall / rib cage

SkemaEnlargement:
a. normal duct cells
b. basement membrane
c. lumen (center of duct)


Breast Profile, cancer:
a. Ducts
b. Lobules
c. dilated section of duct to hold milk
d. nipple
e. fat
f. pectoralis major muscle
g. chest wall / rib cage

Enlargement
a. normal lobular cells
b. lobular cancer cells
c. basement membrane

Risk Factors, Individual:
a. Growing older, the longer you live, the higher your risk
b. personal history of breast cancer
c. family history of breast cancer

Risk Factor, Prolonged Estrogen Exposure:
a. starting menstruation at a young age
b. going through menopause at a late age
c. taking menopause hormone therapy
d. never having had a full-term pregnancy
e. having a first full-term pregnancy after age 30
f. being overweight
g. exposure to estrogens in the environment
h. having more than two alcoholic drinks per week
i. smoking
j. diet
k. stress

Step 1:
- breasts that are their usual size, shape and color
- breasts that are evenly shaped without visible distortion or swelling


changes, bring them to your doctor's attention:
- dimpling, puckering, or bulging of the skin
- a nipple that has changed position or an inverted nipple (pushed inward instead of ticking out)
- redness, soreness, rash or swelling

Step 2:
- raise your arms
- look for the same changes

Step 3:
- gently squeeze each nipple between your finger and thumb
- find nipple discharge

Step 4:
- feel your breast while lying down
- use your right hand to feel your left breast
- use a firm, smooth touch with the first few fingers of your hand, keeping the fingers flat and together
- cover the entire breast, follow a pattern
- begin a very soft touch, and then increase pressure

Step 5:
- feel your breast while you are standing or sitting
- easy wheen skin is wet and slippery, so do this step in the shower
- cover your entire breast, using the same hand movements described in step 4

In order to detect a breast cancer, it can also use: ultrasound or mammography.


More explanation,see the following sites:

http://radiologyinfo.org/content/therapy/thera-breast.htm
http://www.cancercouncil.com.au/editorial.asp?pageid=37

Ukhuwah Islamiyah, Syarat dan Adab-adabnya

Materi Pengajian Akhwat 24 Juli 2005
Oleh: Ibu Ariyani Sutedjo

Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa ukhuwah Islamiyah artinya adalah persaudaraan sesama muslim. Banyak sekali kisah-kisah salafus salihih tentang ukhuwah Islamiyah ini. Rasulullah SAW bahkan pernah mempersaudarakan kaum muhajirin dan kaum anshar, yang adalah merupakan perwujudan ukhuwah Islamiyah. Sebagaimana amalan-amalan ibadah yang lainnya maka ukhuwah Islamiyah pun memiliki syarat-syarat dan adab-adabnya.

Adapun syarat-syarat ukhuwah Islamiyah yaitu:

1. Ditumbuhkan ukhuwah sesama muslim.jadi persaudaraan sesama muslim, hubungannya harus dibedakan dengan yang lainnya. Untuk itu kita musti aware terhadap apa yang menjadi hak daripada saudara kita yang sesama muslim, yang insha Alloh akan mengantarkan kita pada tegaknya kejayaan Islam.

2. Seorang saudara harus bisa melonggarkan beban saudaranya yang lain, umpamanya bila saudara kita sesama muslim sedang terbebani dengan hutang, maka semampunya bagaimana kita dapat menolong saudara kita yang kesulitan tsb.

3. Menghalangi saudara kita dari berbuat dzalim baik dengan perkataan maupun perbuatan.

4. Memberikan perwalian kepada saudara muslim.

5. Muslim tsb. berada di jalan yang lurus. Artinya supaya ukhuwah terbentuk, maka semua pihak hendaknya memiliki komitmen terhadap Islam.

6. Bila berselisih maka merujuklah kepada Al Qur'an dan As Sunah.

7. Ta'awun dalam kebaikan dan ketakwaan.

8. Senantiasa husnuzon terhadap saudaranya, dan menutup aibnya.


Adapun yang menjadi adab-adab daripada ukhuwah adalah sbb:

1. Saling nasehat-menasehati dalam kebaikan dan kesabaran (dalil: QS Al Ashr).

2. Memberikan perhatianbentuk perhatian dapat berupa: memberi salam bila bertemu, menjawab salam dengan iklas, menjenguk teman yang sakit, memberi nasehat dengan hikmah dsb.

3. Solidaritas/takaful, siap memikul beban saudaranya sesama muslim dengan niat semata-mata karena Alloh. Senantiasa menanyakan keadaan saudaranya dan mengunjunginya.

4. Seorang muslim dengan muslim yang lain diibaratkan seperti bangunan yang kokoh. Oleh karena itu saling membantu satu sama lain, bahkan membantulah walau tidak diminta.

5. Mendahulukan kepentingan saudaranya daripada kepentingannya sendiri.lihat kisah tentang keutamaan seorang sahabat dalam memuliakan tamunya, walaupun keluarganya sedang dalam kesulitan, namun tetap menjamu tamunya, agar anaknya tidak minta makan anaknya ditidurkan, selanjutnya sahabat tsb. menaruh kerikil dipiringnya kemudian lampunya dimatikan seolah-olah tamunya melihat sahabat tsb. sedang makan. Demikian mulianya akhlak sahabat tsb., lebih mengutamakan tamunya daripada kepentingannya sendiri dan keluarganya.

6. Menolong saudaranya yang dzolim dan terdzolimi yaitu dengan menghalanginya dari berbuat dzolim.

7. Mengikuti teladan Rasulullah Saw dan sahabat.


Ukhuwah Islamiyah hendaknya disertai komitmen terhadap Islam yang diantaranya adalah:
- perkataan yang baik, lemah lembut dsb. (dalil: QS Thaha, 43-44)
- menyeru dengan hikmah, kata-katanya yang tepat dan terpilih
- tidak memanggil dengan gelar yang buruk
- kata yang keluar harus disukai oleh yang mendengar

Komitmen perbuatan dalam Islam, yaitu diantaranya:
- husnudzon terhadap saudaranya
- kasih sayang terhadap manusia
- senantiasa berbuat ihsanberbuat baik seolah-olah Alloh melihat kita.
- membantu dalam urusan dien dan dunia


Demikianlah pentingnya ukhuwah Islamiyah, semoga dengan menjalankan adab-adab dan syarat-syarat daripada ukhuwah Islamiyah tsb. akan semakin menguatkan rasa persaudaraan diantara sesama muslim.

Enam Persoalan Hidup Menurut Imam Al-Ghozali

Materi Pengajian Akhowat KPII, Ahad 3 Juli 2005
Oleh: Ukhti Betty Mauliya Bustam

Menurut Imam Al-Ghozali, ada 6 persoalan utama dalam hidup seseorang, berikut adalah uraiannya:

1. Yang paling dekat dengan diri kita adalah: Kematian.

Sejak pertama sekali ditiupkannya ruh pada makhluk hidup, maka kematian terus membayanginya. Kematian adalah hal yang pasti terjadi pada setiap makhluk hidup, termasuk kita. Setiap kita telah memiliki jatah hidup masing-masing dan kematian itutidak dapat disegerakan atau ditunda barang sedetik pun. Jika jatah hidup kita belum habis, maka tidak ada suatu pun yang dapat mengakhirinya, sebaliknya, jika jatah hidup kita telah habis, tidak ada suatu pun yang dapat menundanya. Hal ini telah difirmankan Allah dalam Surah Al-An'aam (6): 60-61. Masalahnya, kita tidak tahu kapan jatah hidup tersebut berakhir, kita tidak tahu kapan dan di mana kita akan mati, sebagaimana firman Allah dalam Surah Luqman (31): 34.
Pertanyaan terbesar sekarang: sudah siapkah kita jika sewaktu-waktu malaikat maut datang menjemput? Allah berfirman kepada kita,S. Ali-Imran (3): 102, agar jangan sekali-kali kita mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.

Di tengah kehidupan dunia yang melalaikan, di era globalisasi dan derasnya arus kristenisasi yang melanda ummat Islam, sudah sewajarnyalah kita terus memperkuat barisan dan terus membentengi diri kita dengan doa agar Allah tidak mencabut hidayah yang telah kita miliki dan mewafatkan kita dalam keadaan muslim. Diantara doa-doa yang dapat kita panjatkan terdapat dalam: S. Ali Imran (3): 8,Ali Imran (3): 193, S. Al-Mukminun (23): 94 dan S. Yusuf (12): 101.

2. Yang paling jauh dari diri kita adalah: Masa Lalu.

Setiap detik yang telah kita lalui, akan menjadi masa lalu kita. Kita tidak akan pernah kembali lagi ke detik tersebut. Beruntunglah orang yang dapat mengambil pelajaran dari masa lalunya dan menjadikan hari ini lebih baik dari hari kemarin.

3. Yang paling besar di dunia adalah: Hawa Nafsu.

Hawa nafsu adalah penghalang terbesar bagi kita menuju jalan Allah. Nafsu yang tidak terkendali akan selalu lebih jauh beberapa langkah. Banyak sindiran-sindiran yang diberikan Allah pada manusia yang tidak mampu menahan hawa nafsunya. Manusia-manusia yang terlalu cinta akan kehidupan dunia, yang bakhil, yang sombong tidaklah akan mendapatkan apapun selain penyesalan di akhirat. Sindiran-sindiran Allah tersebutantara lain terdapat dalam: S.Al-`Aadiyat (100), S. Al-An'am (6): 32dan S. Al-Kahfi (18): 32-46 dan S. Al-Fajr (89): 20-26.

Allah mengetahui betapa sulitnya manusia mehanan hawa nafsunya, oleh karena itu Allah mewajibkan kita berpuasa di bulan Ramadhan sebagai sarana pelatihan pengendalian hawa nafsu dan sarana peningkatan keimanan. Karena Allah akan memberikan balasan, hadiah tertinggi bagi manusia yang sempurna imannya, yang hawa nafsunya mengikuti Islam, berupa surga-Nya, S. Al-Fajr (89): 27-30.

4. Yang paling berat di dunia adalah: Memikul Amanah.

Dalam S. Al-Ahzab (33): 72-73, tergambar jelas betapa beratnya memikul amanah tersebut, bahkan langit, bumi dan gunung-gunung pun enggan memikulnya karena khawatir akan menghianatinya. Para pemimpin yang tidak amanah, yang menukar nikmat Allah dengan kekafiran dan menjatuhkan kaumnya kelembah kebinasaan maka Allah akan membalasnya dengan neraka jahannam. Sebagaimana yang difirmankanAllah dalam S. Ibrahim (14): 28-29. Sebaliknya pemimpin yang memelihara amanah yang dipikulnya akan dimuliakan Allah dan berada kekal di dalam surga S: Al-Ma'aarij (70):32-35.

5. Yang paling ringan di dunia adalah: Meninggalkan Shalat.

Shalat adalah tanda syukur kita akan nikmat Allah. Alangkah naifnya kita setelah diberikan nikmat yang sangat banyak dan tiada putusnya dari Allah lalu kita lalai akan mengingatNya, sedangkan terhadap manusia yang pada suatu waktu memberikan pertolongan yang menurut kita sangat berharga saja, kita akan mengingatnya selama hidup kita. Padahal tidaklah sesuatu itu terjadi, tidak juga ada yang menggerakkan hati seseorang untuk menolong kita melainkan Allahlah yang melakukannya.

Di dalam Al-Qur'an telah jelas dan banyak sekali ayat-ayat yang memerintahkan manusia untuk shalat, diantaranya: S. Ibrahim (14): 31,S. Al-Kautsar (108). Namun, lagi, karena kesombongan manusia, merasa bahwa apa yang didapatnya adalah karena hasil kerja kerasnyasendiri, membuatnya lalai dan gampang sekali meninggalkan kewajibannya.

6. Yang paling tajam di dunia adalah: Lidah.

Mungkin kita semua telah sering mendengar ungkapan "mulutmu adalah harimaumu". Karena segala perkataan yang keluar dari mulut kita dapat menjadi bumerang yang akan berbalik dan dapat menghancurkan hidup kita. Oleh karena itu kita selalu dianjurkan berkata baik dan benar atau diam, S. An-Nisaa' (4): 18 dan hadist riwayat Bukhari.

WaLLahu'alambisshawwab. (Liya)

Kedekatan Emosional Jamaah terhadap Majlis Taklim

Materi Pengajian akhwat
Ahad, 19 Juni 2005
oleh Amalia E. Maulana *)

Mungkin banyak di antara kita yang masih ‘take it for granted’ akan kelangsungan penyelenggaraan Majlis Taklim (MT). Di benak tertanam, selama kita masih punya komunitas, MT tidak akan kekurangan pengunjungnya. Lalu bagaimana dengan bangku-bangku yang dulu selalu terisi penuh, sekarang mulai terlihat kosong? Lalu mengapa jam dimulainya MT menjadi lebih lambat dari biasanya, karena masih menunggu hadirin datang? Dirasakankah kesulitan moderator setiap kali membuka sesi pertanyaan yang bertanya hanya orang yang itu-itu saja, sedangkan jamaah lainnya lebih memilih diam?

Saat ini, bisa dikatakan, dalam setiap segmen komunitas, ada kecenderungan mendirikan MT. Ada MT dalam komunitas kantor, komunitas sekolah, komunitas tempat tinggal/tetangga, komunitas olahraga/kesenian, dll. Ini positif, karena semakin maraknya MT, menjadi bukti meningkatnya kesadaraan umat Islam untuk meningkatkan pengetahuan agama dan silaturahim. Ditambah lagi hadirnya situs-situs, milis-milis bernuansa Islam; dimana para anggotanya bisa mendapatkan banyak masukan pengetahuan dan jawaban dari segala keraguan/pertanyaannya tentang Islam. Juga semakin banyak stasiun TV dan radio yang menyiarkan acara dakwah sekaligus forum tanya jawab interaktif yang efektif. Banyaknya alternatif ini yang kemudian menciptakan kesempatan bagi jamaah untuk memilih. Tidak mungkin mengharapkan setiap jamaah akan selalu hadir dalam tiap bentuk MT, selalu menonton program ceramah di TV, atau selalu membaca pesan-pesan yang masuk dalam milis pengajian. Mau tidak mau, terjadilah proses seleksi. Ini tantangannya bagi pengelola MT, bagaimana agar MTnya tetap menempati urutan atas dalam daftar pilihan jamaah.

Pembenahan MT tentunya harus dilakukan dalam segala bidang. Salah satunya, seperti yang akan dibahas dalam tulisan ini adalah, bagaimana agar kita lebih responsif terhadap kebutuhan dan aspirasi jamaah. Pengelola MT pada umumnya ragu dalam merespon umpan balik dari jamaah akibat aspirasi yang bervariasi; kuatir keputusan yang diambil tidak bisa memuaskan semua jamaah.

Dalam manajemen pemasaran sebuah brand (merek), kesulitan ini juga dihadapi oleh para pengelolanya. Tentu sulit untuk merespon semua umpan balik dari konsumen yang sangat beragam. Strategi yang dilakukan adalah membagi pemakai brand menjadi beberapa kelompok, dari yang sangat sering menggunakan (heavy users), sedang-sedang saja (medium users), hingga yang jarang menggunakan (light users). Kelompok heavy users ini yang biasanya diprioritaskan, aspirasinya dijadikan suatu acuan yang penting bagi pengembangan kualitas brand. Pada prinsipnya, frekuensi pemakaian dianggap menjadi salah satu ukuran penting yang menjelaskan produk/brand disukai atau tidak.

Konsep ini juga digunakan dalam menilai sebuah program televisi atau radio, dikenal dengan nama TV atau radio ratings. Dari data ratings, bisa dilihat berapa banyak yang menonton program televisi tertentu, atau yang mendengarkan program radio tertentu. Harga pemasangan iklan pada acara yang banyak penonton/pendengarnya lebih tinggi dibandingkan dengan yang sedikit penonton/pendengarnya. Tetapi, belakangan dikatakan bahwa hanya dengan melihat banyak sedikitnya penonton/pendengar program, tidak menggambarkan keberhasilan program dalam jangka panjang. Ukuran baru yang dianggap lebih tepat adalah ukuran tingkat kedekatan emosional penonton/pendengar program dengan acara tersebut. Semakin banyak penonton yang memiliki tingkat kedekatan emosional yang tinggi terhadap program, semakin tinggi kemungkinan keberhasilan program dalam jangka panjang. Ambil saja contoh program televisi yang tinggi ratingnya yaitu “Australian Idol”. Penonton yang memiliki tingkat kedekatan emosional tinggi terhadap acara ini, mempunyai perilaku yang berbeda dengan penonton yang menengah/rendah kedekatan emosionalnya. Tanda-tanda bahwa seorang penonton program ”Australian Idol” memiliki tingkat ‘kedekatan emosional’ yang tinggi adalah : (1) membatalkan semua acara pada saat program berlangsung, (2) merekam program ini untuk ditonton ulang (3) ikut memberikan suara/voting, (4) membeli CD lagu-lagu pemenang Idol (5) Aktif membahas acara ini baik secara langsung dengan teman maupun lewat diskusi di milis-milis, dll.

Tingkat kedekatan emosional terhadap program televisi atau radio ini yang saya adopsi, untuk disesuaikan dengan konteks MT. Berapa banyak dari total jamaah yang tinggi kedekatan emosionalnya terhadap MT? Manfaat yang bisa dipetik dengan memiliki informasi karakteristik jamaah ini adalah, pengelola MT akan lebih terfokus dalam merespon keberatan-keberatan dan aspirasi yang masuk. Dengan diberikan perhatian lebih, diharapkan kelompok yang memiliki tingkat kedekatan emosional tinggi akan mengeskpose image positif MT dalam forum-forum lain. Dengan tingkat kepuasan yang meningkat, kelompok ini juga akan lebih gencar usahanya dalam mengajak teman lain bergabung, atau menekan keseganan teman untuk tidak hadir dalam acara MT.

Bagaimana mendeskripsikan seorang jamaah dengan tingkat kedekatan emosional yang tinggi terhadap sebuah MT? Daftar di bawah ini bisa membantu menjelaskannya.

*
Selalu hadir acara MT tepat waktu.
*
Membatalkan semua acara lain yang bertabrakan dengan penyelenggaraan MT.
*
Secara aktif merekomendasikan ke teman/kolega untuk ikut datang ke acara MT, baik secara langsung maupun secara tidak langsung (misalnya dengan mencantumkan jadwal MT berikutnya di bawah setiap email yang dikirimkan).
*
Berpartisipasi dalam sesi diskusi pada acara MT.
*
Mencatat materi-materi yang disampaikan pada MT untuk referensi.
*
Mengirimkan ringkasan materi ke teman yang kebetulan berhalangan hadir.
*
Ikut aktif mengusulkan materi dan pembicara ke penyelenggara.
*
Ikut dalam acara piknik, acara sosial, dll yang diselenggarakan oleh organisasi MT dari waktu ke waktu.
*
Mengaplikasikan materi yang disampaikan dalam MT dalam kehidupan sehari-harinya.


Langkah awal sebagai penerapan praktis tulisan di atas bagi pengelola MT adalah dengan mulai meminta jamaah untuk mengisi daftar hadir. Informasi ini sangat mendasar dan bisa ditelusuri secara langsung. Setelah satu periode tertentu, pola kehadiran jamaah bisa dilihat dan kemudian kelompokkan jamaah berdasarkan frekuensi kehadirannya.

Langkah berikutnya adalah dengan meminta jamaah yang sudah datang beberapa kali ke pertemuan untuk mengisi kuesioner yang berkaitan dengan tingkat kedekatan emosionalnya terhadap MT. Kuesioner ini bisa diminta untuk diisi ulang pada setiap beberapa bulan sekali. Hasil observasi atau pengamatan selama acara MT juga ikut membantu untuk memperkaya catatan tentang karakteristik jamaah. Setelah itu, dibuat sebuah peta pengelompokan jamaah berdasarkan tingkat kedekatan emosionalnya terhadap MT.

Pengelola MT juga diminta untuk tidak melupakan survey umum secara periodik (minimal 6 bulan sekali) yang bertujuan untuk mengetahui sejauh mana persepsi jamaah tentang kualitas MT, tingkat kepuasan terhadap MT, dll. Bandingkan jawaban survey ini antar kelompok dengan intensitas kedekatan emosional yang berbeda. Apakah perbedaan persepsi dan aspirasi mereka cukup nyata? Jika demikian adanya, maka langkah yang perlu diambil oleh pengelola MT harus dimulai dari memprioritaskan aspirasi kelompok yang tinggi tingkat kedekatan emosionalnya. Kelompok ini selain merupakan anggota inti MT, juga merupakan influencer group atau panutan dalam kelompok yang lebih luas.

Selain meningkatkan kualitas materi, kualitas pembicara, kualitas jamuan (apabila relevan), dll, usulan lainnya adalah dengan memberikan insentif langsung bagi jamaah yang meluangkan waktunya untuk (1) merekrut anggota baru (2) mengajak anggota MT yang sudah jarang hadir lagi. Insentif yang diberikan bisa bersifat tangible maupun intangible. Yang tangible contohnya berupa bingkisan makanan untuk dibawa pulang, potongan harga pada saat diadakannya acara-acara piknik; atau berupa sesuatu yang intangible yaitu ucapan terimakasih yang diumumkan pada saat pembukaan acara MT, atau diumumkan dalam surat undangan untuk MT selanjutnya, dll.

Pengiriman newsletter atau buletin yang diterbitkan oleh pengurus MT juga akan dianggap sebagai sebuah perhatian lebih bagi jamaah. Buletin yang berisikan informasi tentang jadwal MT berikutnya, jadwal sholat, ringkasan materi ceramah yang lalu, dan artikel-artikel lain yang relevan bisa menjadi tali penghubung yang erat antara MT dengan jamaahnya. Analoginya adalah, seperti halnya sebuah relationship antar teman atau sahabat, apabila semakin sering teman/sahabat ini mendapatkan perhatian, maka dengan sendirinya tingkat kedekatan emosional antar keduanya akan meningkat. Hasil akhir dengan meningkatnya relationship ini, MT yang kita kelola akan berhasil menduduki/mempertahankan peringkat atas pilihan jamaah dibandingkan MT atau media-media pengetahuan Islam lainnya.


*) Kandidat PhD, School of Marketing, UNSW.