Thursday, September 15, 2005

Image

Materi Pengajian Akhwat
Ahad,21 Agustus 2005
Oleh: Ibu Popy Rufaidah*

Image berasal dari bahasa latin yaitu imago yang artinya picture/gambar. Image sering juga diartikan sebagai artifact yang menghasilkan kemiripan akan sesuatu subject danbiasanya object fisik atau organisasi.

Image atau citra dapat pula dikatakan sebagai persepsi atau pandangan, penilaian, gambaran seseorang akan sesuatu, misalnya:

* gambaran terhadap anda sendiri (self image)
* country image
* religion image


Kita ambil contoh Image of George Bush,

* dimata orang Amerika George Bush adalah ulama mereka
* dimata muslim, George Bush adalah international terrorist


Begitupula image of Islam in a multicultural country bisa beragam, ada yang memandang positif, namun adapula menganggap sebagai ancaman.

Berikut dua pandangan berbeda dari non muslim convert to Islam played key coordinator:

Seorang wanita muslim memilih melepas kerudung dikarenakan takut kehilangan pekerjaan, atau tidak confidence bakal dapat perkerjaan. Ini kasus yang sangat menyedihkan. Ketakutan muslimah itu mengalahkan kebanggaan sebagai muslim.

On the other hand, Silma Ihram said that by converting ourselves up, we are asking to be appreciated for our personality, rather than our physical features. She is one of the founder Nour Al Houda Islamic College. She also said that as a muslim we need to learn to answer people’s question about Islam very confidently and politely.

Because by satisfying their curiousity in a position way, they are actually doing da’wah or promoting the goal of their religion.

Why muslims do not proud of their identity?
Mind contaminated --> not proud of our identity (Islam) <-- Self esteem decreased

Self esteem: the opinion you have of yourself.

It is based on your attitude to the following:

* your value as a person
* the job you do
* your achievement
* how you think others see you
* your purpose in life
* your place in the world
* your potential for success
* your strengths and weaknesses
* your social status and how you relate to others
* your independence


Charateristics of how self esteem among muslim:

* social withdrawal
* lack of social skills & self confidence
* reluctance to take on challenge
* less social comformity
* reluctance to trust your own opinion


How to get proud of Islam?

Mind Management --> Proud of Islam <-- Building self esteem

Hal-hal yang sebaiknya dihindari:

* hindarkan bad self image (citra diri yang negative)


Tanpa disadari oleh kita setelah berpuluh tahun menjalani hidup ini, kita dihinggapi oleh cara pandang negative.

* hindarkan bad experience

Pengalaman buruk yang menimpa dalam perjalanan hidup seseorang yang mengakibatkan persepsi negative dalam berperilaku

* hindarkan bad partner

keadaan dimana anda salah memilih teman atau pasangan.
Pepatah mengatakan: “ketika anda memilih teman, itu akan menggambarkan siapa anda sebenarnya.”

* hindarkan “bad environment”

Lingkungan/komunitas dimana anda berinteraksi sangat berpengaruh.

Some steps on building our self esteem:

* enter different community
* involved in organization
* willing to take on challenge
* take additional course/education
* dare to be a presenter


Semoga kita semua dapat segera membangun rasa percaya diri kita dengan berbagai langkah diatas. Insha Alloh seiring dengan tumbuhnya rasa percaya diri yang kuat maka semakin membuat kita bangga sebagai seorang muslim.

*) Dosen Unpad & Kandidat Phd di UNSW

Breast Cancer, Be Aware!

Materi Pengajian Akhwat
Ahad, 7 Agustus 2005

By: Dr Dyah Mustikaning PP

Breast Profile: (please refer to the picture below)





a. Ducts
b. Lobules
c. dilated section of duct to hold milk
d. nipple
e. fat
f. pectoralis major muscle
g. chest wall / rib cage

SkemaEnlargement:
a. normal duct cells
b. basement membrane
c. lumen (center of duct)


Breast Profile, cancer:
a. Ducts
b. Lobules
c. dilated section of duct to hold milk
d. nipple
e. fat
f. pectoralis major muscle
g. chest wall / rib cage

Enlargement
a. normal lobular cells
b. lobular cancer cells
c. basement membrane

Risk Factors, Individual:
a. Growing older, the longer you live, the higher your risk
b. personal history of breast cancer
c. family history of breast cancer

Risk Factor, Prolonged Estrogen Exposure:
a. starting menstruation at a young age
b. going through menopause at a late age
c. taking menopause hormone therapy
d. never having had a full-term pregnancy
e. having a first full-term pregnancy after age 30
f. being overweight
g. exposure to estrogens in the environment
h. having more than two alcoholic drinks per week
i. smoking
j. diet
k. stress

Step 1:
- breasts that are their usual size, shape and color
- breasts that are evenly shaped without visible distortion or swelling


changes, bring them to your doctor's attention:
- dimpling, puckering, or bulging of the skin
- a nipple that has changed position or an inverted nipple (pushed inward instead of ticking out)
- redness, soreness, rash or swelling

Step 2:
- raise your arms
- look for the same changes

Step 3:
- gently squeeze each nipple between your finger and thumb
- find nipple discharge

Step 4:
- feel your breast while lying down
- use your right hand to feel your left breast
- use a firm, smooth touch with the first few fingers of your hand, keeping the fingers flat and together
- cover the entire breast, follow a pattern
- begin a very soft touch, and then increase pressure

Step 5:
- feel your breast while you are standing or sitting
- easy wheen skin is wet and slippery, so do this step in the shower
- cover your entire breast, using the same hand movements described in step 4

In order to detect a breast cancer, it can also use: ultrasound or mammography.


More explanation,see the following sites:

http://radiologyinfo.org/content/therapy/thera-breast.htm
http://www.cancercouncil.com.au/editorial.asp?pageid=37

Ukhuwah Islamiyah, Syarat dan Adab-adabnya

Materi Pengajian Akhwat 24 Juli 2005
Oleh: Ibu Ariyani Sutedjo

Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa ukhuwah Islamiyah artinya adalah persaudaraan sesama muslim. Banyak sekali kisah-kisah salafus salihih tentang ukhuwah Islamiyah ini. Rasulullah SAW bahkan pernah mempersaudarakan kaum muhajirin dan kaum anshar, yang adalah merupakan perwujudan ukhuwah Islamiyah. Sebagaimana amalan-amalan ibadah yang lainnya maka ukhuwah Islamiyah pun memiliki syarat-syarat dan adab-adabnya.

Adapun syarat-syarat ukhuwah Islamiyah yaitu:

1. Ditumbuhkan ukhuwah sesama muslim.jadi persaudaraan sesama muslim, hubungannya harus dibedakan dengan yang lainnya. Untuk itu kita musti aware terhadap apa yang menjadi hak daripada saudara kita yang sesama muslim, yang insha Alloh akan mengantarkan kita pada tegaknya kejayaan Islam.

2. Seorang saudara harus bisa melonggarkan beban saudaranya yang lain, umpamanya bila saudara kita sesama muslim sedang terbebani dengan hutang, maka semampunya bagaimana kita dapat menolong saudara kita yang kesulitan tsb.

3. Menghalangi saudara kita dari berbuat dzalim baik dengan perkataan maupun perbuatan.

4. Memberikan perwalian kepada saudara muslim.

5. Muslim tsb. berada di jalan yang lurus. Artinya supaya ukhuwah terbentuk, maka semua pihak hendaknya memiliki komitmen terhadap Islam.

6. Bila berselisih maka merujuklah kepada Al Qur'an dan As Sunah.

7. Ta'awun dalam kebaikan dan ketakwaan.

8. Senantiasa husnuzon terhadap saudaranya, dan menutup aibnya.


Adapun yang menjadi adab-adab daripada ukhuwah adalah sbb:

1. Saling nasehat-menasehati dalam kebaikan dan kesabaran (dalil: QS Al Ashr).

2. Memberikan perhatianbentuk perhatian dapat berupa: memberi salam bila bertemu, menjawab salam dengan iklas, menjenguk teman yang sakit, memberi nasehat dengan hikmah dsb.

3. Solidaritas/takaful, siap memikul beban saudaranya sesama muslim dengan niat semata-mata karena Alloh. Senantiasa menanyakan keadaan saudaranya dan mengunjunginya.

4. Seorang muslim dengan muslim yang lain diibaratkan seperti bangunan yang kokoh. Oleh karena itu saling membantu satu sama lain, bahkan membantulah walau tidak diminta.

5. Mendahulukan kepentingan saudaranya daripada kepentingannya sendiri.lihat kisah tentang keutamaan seorang sahabat dalam memuliakan tamunya, walaupun keluarganya sedang dalam kesulitan, namun tetap menjamu tamunya, agar anaknya tidak minta makan anaknya ditidurkan, selanjutnya sahabat tsb. menaruh kerikil dipiringnya kemudian lampunya dimatikan seolah-olah tamunya melihat sahabat tsb. sedang makan. Demikian mulianya akhlak sahabat tsb., lebih mengutamakan tamunya daripada kepentingannya sendiri dan keluarganya.

6. Menolong saudaranya yang dzolim dan terdzolimi yaitu dengan menghalanginya dari berbuat dzolim.

7. Mengikuti teladan Rasulullah Saw dan sahabat.


Ukhuwah Islamiyah hendaknya disertai komitmen terhadap Islam yang diantaranya adalah:
- perkataan yang baik, lemah lembut dsb. (dalil: QS Thaha, 43-44)
- menyeru dengan hikmah, kata-katanya yang tepat dan terpilih
- tidak memanggil dengan gelar yang buruk
- kata yang keluar harus disukai oleh yang mendengar

Komitmen perbuatan dalam Islam, yaitu diantaranya:
- husnudzon terhadap saudaranya
- kasih sayang terhadap manusia
- senantiasa berbuat ihsanberbuat baik seolah-olah Alloh melihat kita.
- membantu dalam urusan dien dan dunia


Demikianlah pentingnya ukhuwah Islamiyah, semoga dengan menjalankan adab-adab dan syarat-syarat daripada ukhuwah Islamiyah tsb. akan semakin menguatkan rasa persaudaraan diantara sesama muslim.

Enam Persoalan Hidup Menurut Imam Al-Ghozali

Materi Pengajian Akhowat KPII, Ahad 3 Juli 2005
Oleh: Ukhti Betty Mauliya Bustam

Menurut Imam Al-Ghozali, ada 6 persoalan utama dalam hidup seseorang, berikut adalah uraiannya:

1. Yang paling dekat dengan diri kita adalah: Kematian.

Sejak pertama sekali ditiupkannya ruh pada makhluk hidup, maka kematian terus membayanginya. Kematian adalah hal yang pasti terjadi pada setiap makhluk hidup, termasuk kita. Setiap kita telah memiliki jatah hidup masing-masing dan kematian itutidak dapat disegerakan atau ditunda barang sedetik pun. Jika jatah hidup kita belum habis, maka tidak ada suatu pun yang dapat mengakhirinya, sebaliknya, jika jatah hidup kita telah habis, tidak ada suatu pun yang dapat menundanya. Hal ini telah difirmankan Allah dalam Surah Al-An'aam (6): 60-61. Masalahnya, kita tidak tahu kapan jatah hidup tersebut berakhir, kita tidak tahu kapan dan di mana kita akan mati, sebagaimana firman Allah dalam Surah Luqman (31): 34.
Pertanyaan terbesar sekarang: sudah siapkah kita jika sewaktu-waktu malaikat maut datang menjemput? Allah berfirman kepada kita,S. Ali-Imran (3): 102, agar jangan sekali-kali kita mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.

Di tengah kehidupan dunia yang melalaikan, di era globalisasi dan derasnya arus kristenisasi yang melanda ummat Islam, sudah sewajarnyalah kita terus memperkuat barisan dan terus membentengi diri kita dengan doa agar Allah tidak mencabut hidayah yang telah kita miliki dan mewafatkan kita dalam keadaan muslim. Diantara doa-doa yang dapat kita panjatkan terdapat dalam: S. Ali Imran (3): 8,Ali Imran (3): 193, S. Al-Mukminun (23): 94 dan S. Yusuf (12): 101.

2. Yang paling jauh dari diri kita adalah: Masa Lalu.

Setiap detik yang telah kita lalui, akan menjadi masa lalu kita. Kita tidak akan pernah kembali lagi ke detik tersebut. Beruntunglah orang yang dapat mengambil pelajaran dari masa lalunya dan menjadikan hari ini lebih baik dari hari kemarin.

3. Yang paling besar di dunia adalah: Hawa Nafsu.

Hawa nafsu adalah penghalang terbesar bagi kita menuju jalan Allah. Nafsu yang tidak terkendali akan selalu lebih jauh beberapa langkah. Banyak sindiran-sindiran yang diberikan Allah pada manusia yang tidak mampu menahan hawa nafsunya. Manusia-manusia yang terlalu cinta akan kehidupan dunia, yang bakhil, yang sombong tidaklah akan mendapatkan apapun selain penyesalan di akhirat. Sindiran-sindiran Allah tersebutantara lain terdapat dalam: S.Al-`Aadiyat (100), S. Al-An'am (6): 32dan S. Al-Kahfi (18): 32-46 dan S. Al-Fajr (89): 20-26.

Allah mengetahui betapa sulitnya manusia mehanan hawa nafsunya, oleh karena itu Allah mewajibkan kita berpuasa di bulan Ramadhan sebagai sarana pelatihan pengendalian hawa nafsu dan sarana peningkatan keimanan. Karena Allah akan memberikan balasan, hadiah tertinggi bagi manusia yang sempurna imannya, yang hawa nafsunya mengikuti Islam, berupa surga-Nya, S. Al-Fajr (89): 27-30.

4. Yang paling berat di dunia adalah: Memikul Amanah.

Dalam S. Al-Ahzab (33): 72-73, tergambar jelas betapa beratnya memikul amanah tersebut, bahkan langit, bumi dan gunung-gunung pun enggan memikulnya karena khawatir akan menghianatinya. Para pemimpin yang tidak amanah, yang menukar nikmat Allah dengan kekafiran dan menjatuhkan kaumnya kelembah kebinasaan maka Allah akan membalasnya dengan neraka jahannam. Sebagaimana yang difirmankanAllah dalam S. Ibrahim (14): 28-29. Sebaliknya pemimpin yang memelihara amanah yang dipikulnya akan dimuliakan Allah dan berada kekal di dalam surga S: Al-Ma'aarij (70):32-35.

5. Yang paling ringan di dunia adalah: Meninggalkan Shalat.

Shalat adalah tanda syukur kita akan nikmat Allah. Alangkah naifnya kita setelah diberikan nikmat yang sangat banyak dan tiada putusnya dari Allah lalu kita lalai akan mengingatNya, sedangkan terhadap manusia yang pada suatu waktu memberikan pertolongan yang menurut kita sangat berharga saja, kita akan mengingatnya selama hidup kita. Padahal tidaklah sesuatu itu terjadi, tidak juga ada yang menggerakkan hati seseorang untuk menolong kita melainkan Allahlah yang melakukannya.

Di dalam Al-Qur'an telah jelas dan banyak sekali ayat-ayat yang memerintahkan manusia untuk shalat, diantaranya: S. Ibrahim (14): 31,S. Al-Kautsar (108). Namun, lagi, karena kesombongan manusia, merasa bahwa apa yang didapatnya adalah karena hasil kerja kerasnyasendiri, membuatnya lalai dan gampang sekali meninggalkan kewajibannya.

6. Yang paling tajam di dunia adalah: Lidah.

Mungkin kita semua telah sering mendengar ungkapan "mulutmu adalah harimaumu". Karena segala perkataan yang keluar dari mulut kita dapat menjadi bumerang yang akan berbalik dan dapat menghancurkan hidup kita. Oleh karena itu kita selalu dianjurkan berkata baik dan benar atau diam, S. An-Nisaa' (4): 18 dan hadist riwayat Bukhari.

WaLLahu'alambisshawwab. (Liya)

Kedekatan Emosional Jamaah terhadap Majlis Taklim

Materi Pengajian akhwat
Ahad, 19 Juni 2005
oleh Amalia E. Maulana *)

Mungkin banyak di antara kita yang masih ‘take it for granted’ akan kelangsungan penyelenggaraan Majlis Taklim (MT). Di benak tertanam, selama kita masih punya komunitas, MT tidak akan kekurangan pengunjungnya. Lalu bagaimana dengan bangku-bangku yang dulu selalu terisi penuh, sekarang mulai terlihat kosong? Lalu mengapa jam dimulainya MT menjadi lebih lambat dari biasanya, karena masih menunggu hadirin datang? Dirasakankah kesulitan moderator setiap kali membuka sesi pertanyaan yang bertanya hanya orang yang itu-itu saja, sedangkan jamaah lainnya lebih memilih diam?

Saat ini, bisa dikatakan, dalam setiap segmen komunitas, ada kecenderungan mendirikan MT. Ada MT dalam komunitas kantor, komunitas sekolah, komunitas tempat tinggal/tetangga, komunitas olahraga/kesenian, dll. Ini positif, karena semakin maraknya MT, menjadi bukti meningkatnya kesadaraan umat Islam untuk meningkatkan pengetahuan agama dan silaturahim. Ditambah lagi hadirnya situs-situs, milis-milis bernuansa Islam; dimana para anggotanya bisa mendapatkan banyak masukan pengetahuan dan jawaban dari segala keraguan/pertanyaannya tentang Islam. Juga semakin banyak stasiun TV dan radio yang menyiarkan acara dakwah sekaligus forum tanya jawab interaktif yang efektif. Banyaknya alternatif ini yang kemudian menciptakan kesempatan bagi jamaah untuk memilih. Tidak mungkin mengharapkan setiap jamaah akan selalu hadir dalam tiap bentuk MT, selalu menonton program ceramah di TV, atau selalu membaca pesan-pesan yang masuk dalam milis pengajian. Mau tidak mau, terjadilah proses seleksi. Ini tantangannya bagi pengelola MT, bagaimana agar MTnya tetap menempati urutan atas dalam daftar pilihan jamaah.

Pembenahan MT tentunya harus dilakukan dalam segala bidang. Salah satunya, seperti yang akan dibahas dalam tulisan ini adalah, bagaimana agar kita lebih responsif terhadap kebutuhan dan aspirasi jamaah. Pengelola MT pada umumnya ragu dalam merespon umpan balik dari jamaah akibat aspirasi yang bervariasi; kuatir keputusan yang diambil tidak bisa memuaskan semua jamaah.

Dalam manajemen pemasaran sebuah brand (merek), kesulitan ini juga dihadapi oleh para pengelolanya. Tentu sulit untuk merespon semua umpan balik dari konsumen yang sangat beragam. Strategi yang dilakukan adalah membagi pemakai brand menjadi beberapa kelompok, dari yang sangat sering menggunakan (heavy users), sedang-sedang saja (medium users), hingga yang jarang menggunakan (light users). Kelompok heavy users ini yang biasanya diprioritaskan, aspirasinya dijadikan suatu acuan yang penting bagi pengembangan kualitas brand. Pada prinsipnya, frekuensi pemakaian dianggap menjadi salah satu ukuran penting yang menjelaskan produk/brand disukai atau tidak.

Konsep ini juga digunakan dalam menilai sebuah program televisi atau radio, dikenal dengan nama TV atau radio ratings. Dari data ratings, bisa dilihat berapa banyak yang menonton program televisi tertentu, atau yang mendengarkan program radio tertentu. Harga pemasangan iklan pada acara yang banyak penonton/pendengarnya lebih tinggi dibandingkan dengan yang sedikit penonton/pendengarnya. Tetapi, belakangan dikatakan bahwa hanya dengan melihat banyak sedikitnya penonton/pendengar program, tidak menggambarkan keberhasilan program dalam jangka panjang. Ukuran baru yang dianggap lebih tepat adalah ukuran tingkat kedekatan emosional penonton/pendengar program dengan acara tersebut. Semakin banyak penonton yang memiliki tingkat kedekatan emosional yang tinggi terhadap program, semakin tinggi kemungkinan keberhasilan program dalam jangka panjang. Ambil saja contoh program televisi yang tinggi ratingnya yaitu “Australian Idol”. Penonton yang memiliki tingkat kedekatan emosional tinggi terhadap acara ini, mempunyai perilaku yang berbeda dengan penonton yang menengah/rendah kedekatan emosionalnya. Tanda-tanda bahwa seorang penonton program ”Australian Idol” memiliki tingkat ‘kedekatan emosional’ yang tinggi adalah : (1) membatalkan semua acara pada saat program berlangsung, (2) merekam program ini untuk ditonton ulang (3) ikut memberikan suara/voting, (4) membeli CD lagu-lagu pemenang Idol (5) Aktif membahas acara ini baik secara langsung dengan teman maupun lewat diskusi di milis-milis, dll.

Tingkat kedekatan emosional terhadap program televisi atau radio ini yang saya adopsi, untuk disesuaikan dengan konteks MT. Berapa banyak dari total jamaah yang tinggi kedekatan emosionalnya terhadap MT? Manfaat yang bisa dipetik dengan memiliki informasi karakteristik jamaah ini adalah, pengelola MT akan lebih terfokus dalam merespon keberatan-keberatan dan aspirasi yang masuk. Dengan diberikan perhatian lebih, diharapkan kelompok yang memiliki tingkat kedekatan emosional tinggi akan mengeskpose image positif MT dalam forum-forum lain. Dengan tingkat kepuasan yang meningkat, kelompok ini juga akan lebih gencar usahanya dalam mengajak teman lain bergabung, atau menekan keseganan teman untuk tidak hadir dalam acara MT.

Bagaimana mendeskripsikan seorang jamaah dengan tingkat kedekatan emosional yang tinggi terhadap sebuah MT? Daftar di bawah ini bisa membantu menjelaskannya.

*
Selalu hadir acara MT tepat waktu.
*
Membatalkan semua acara lain yang bertabrakan dengan penyelenggaraan MT.
*
Secara aktif merekomendasikan ke teman/kolega untuk ikut datang ke acara MT, baik secara langsung maupun secara tidak langsung (misalnya dengan mencantumkan jadwal MT berikutnya di bawah setiap email yang dikirimkan).
*
Berpartisipasi dalam sesi diskusi pada acara MT.
*
Mencatat materi-materi yang disampaikan pada MT untuk referensi.
*
Mengirimkan ringkasan materi ke teman yang kebetulan berhalangan hadir.
*
Ikut aktif mengusulkan materi dan pembicara ke penyelenggara.
*
Ikut dalam acara piknik, acara sosial, dll yang diselenggarakan oleh organisasi MT dari waktu ke waktu.
*
Mengaplikasikan materi yang disampaikan dalam MT dalam kehidupan sehari-harinya.


Langkah awal sebagai penerapan praktis tulisan di atas bagi pengelola MT adalah dengan mulai meminta jamaah untuk mengisi daftar hadir. Informasi ini sangat mendasar dan bisa ditelusuri secara langsung. Setelah satu periode tertentu, pola kehadiran jamaah bisa dilihat dan kemudian kelompokkan jamaah berdasarkan frekuensi kehadirannya.

Langkah berikutnya adalah dengan meminta jamaah yang sudah datang beberapa kali ke pertemuan untuk mengisi kuesioner yang berkaitan dengan tingkat kedekatan emosionalnya terhadap MT. Kuesioner ini bisa diminta untuk diisi ulang pada setiap beberapa bulan sekali. Hasil observasi atau pengamatan selama acara MT juga ikut membantu untuk memperkaya catatan tentang karakteristik jamaah. Setelah itu, dibuat sebuah peta pengelompokan jamaah berdasarkan tingkat kedekatan emosionalnya terhadap MT.

Pengelola MT juga diminta untuk tidak melupakan survey umum secara periodik (minimal 6 bulan sekali) yang bertujuan untuk mengetahui sejauh mana persepsi jamaah tentang kualitas MT, tingkat kepuasan terhadap MT, dll. Bandingkan jawaban survey ini antar kelompok dengan intensitas kedekatan emosional yang berbeda. Apakah perbedaan persepsi dan aspirasi mereka cukup nyata? Jika demikian adanya, maka langkah yang perlu diambil oleh pengelola MT harus dimulai dari memprioritaskan aspirasi kelompok yang tinggi tingkat kedekatan emosionalnya. Kelompok ini selain merupakan anggota inti MT, juga merupakan influencer group atau panutan dalam kelompok yang lebih luas.

Selain meningkatkan kualitas materi, kualitas pembicara, kualitas jamuan (apabila relevan), dll, usulan lainnya adalah dengan memberikan insentif langsung bagi jamaah yang meluangkan waktunya untuk (1) merekrut anggota baru (2) mengajak anggota MT yang sudah jarang hadir lagi. Insentif yang diberikan bisa bersifat tangible maupun intangible. Yang tangible contohnya berupa bingkisan makanan untuk dibawa pulang, potongan harga pada saat diadakannya acara-acara piknik; atau berupa sesuatu yang intangible yaitu ucapan terimakasih yang diumumkan pada saat pembukaan acara MT, atau diumumkan dalam surat undangan untuk MT selanjutnya, dll.

Pengiriman newsletter atau buletin yang diterbitkan oleh pengurus MT juga akan dianggap sebagai sebuah perhatian lebih bagi jamaah. Buletin yang berisikan informasi tentang jadwal MT berikutnya, jadwal sholat, ringkasan materi ceramah yang lalu, dan artikel-artikel lain yang relevan bisa menjadi tali penghubung yang erat antara MT dengan jamaahnya. Analoginya adalah, seperti halnya sebuah relationship antar teman atau sahabat, apabila semakin sering teman/sahabat ini mendapatkan perhatian, maka dengan sendirinya tingkat kedekatan emosional antar keduanya akan meningkat. Hasil akhir dengan meningkatnya relationship ini, MT yang kita kelola akan berhasil menduduki/mempertahankan peringkat atas pilihan jamaah dibandingkan MT atau media-media pengetahuan Islam lainnya.


*) Kandidat PhD, School of Marketing, UNSW.