Monday, October 03, 2005

Shifat Shaum Nabi di Bulan Ramadhan

Oleh Naning Tri Wahyuni

Dari Abu Hurairah ia berkata: “Rasulullah bersabda: “Setiap amal manusia terdapat pahala yang terbatas kecuali puasa, sesungguhnya puasa adalah untukku dan aku yang membalasnya, dan puasa adalah perisai. Dan pada hari puasa janganlah kalian mengatakan atau melakukan perbuatan keji dan janganlah membuat gaduh, jika salah seorang kalian mencelanya atau membunuhnya maka hendaklah mengatakan: “Sesungguhnya aku sedang berpuasa”, demi Dzat yang jiwa Muhammad berada ditangannya benar-benar bau mulut orang yang berpuasa lebih harum disisi Allah dari bau kasturi, bagi orang yang berpuasa ada dua kegembiraan yang ia gembira dengan keduanya: jika berbuka ia gembira, dan jika bertemu Allah dengan puasanya ia gembira”. (Hadits riwayat Bukhari dan Muslim)

************************************************************************************
I. Keutamaan Puasa
a. Puasa adalah perisai
“Puasa adalah perisai, dengannya seorang hamba terjaga dari api neraka” (HR Ahmad)
b. Puasa memasukkan ke syurga
Dari Abu Umamah, ia berkata: “aku bertanya,“ Wahai Rasulullah tunjukkan kepadaku suatu amal yang memasukkanku ke syurga”, Nabi bersabda: “Hendaknya engkau berpuasa, tiada yang menyamainya”. (HR Nasai, ibnu Hibban, dan Hakim dan sanadnya shahih)
c. Orang yang berpuasa mendapatkan pahala tanpa hisab
d. Bagi orang yan berpuasa ada dua kegembiraan
e. Bau mulut orang yang berpuasa lebih harum disisi Allah dari bau kasturi
Dalil-dalil untuk (c),(d), dan (e), Hadist riwayat Bukhari dan Muslim diatas.
f. Puasa dan Al Qur’an akan memberi syafaat orang yang mengamalkannya (HR Ahmad & Hakim).
g. Puasa adalah kaffarah (penghapus dosa)
Dari Hudzaifah bin Yaman ia berkata, Rasulullah bersabda: “Fitnah laki-laki pada keluarganya, hartanya, anaknya, tetangganya, dihapuskan oleh shalat, puasa dan sedekah”. (HR Bukhari dan Muslim)
h. Pintu syurga yang bernama Ar Rayyan bagi orang yang berpuasa (HR Bukhari dan Muslim)
II. Keutamaan Bulan Ramadhan
a. Bulan Al Qur’an (Al Baqarah: 185)
b. Dibelenggunya Syaitan. “Jika telah tiba bulan Ramadhan, dibukalah pintu-pintu syurga, ditutuplah pintu-pintu neraka, dan dibelenggulah syaitan-syaitan”.(HR Bukhari dan Muslim)
c. Lailatul Qadr

III. Wajibnya puasa Ramadhan
Barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan maka itulah yang lebih baik darinya.Dari keutamaan-keutamaan bulan Ramadhan diatas, Allah mewajibkan puasa Ramadhan atas kaum muslimin, dan oleh karena memutuskan jiwa dari syahwatnya dan menutup jiwa dari keinginan-keinginan syahwat adalah perkara yang paling berat, maka diakhirkanlah wajibnya puasa Ramadhan hingga sampai tahun kedua hijriyah. (Albaqarah: 183-185)
IV. Anjuran dengan sangat untuk berpuasa pada bulan Ramadhan
a. Diampuninya dosa-dosa
Dari Abu Hurairah, dari Nabi, beliau bersabda : “Barangsiapa berpuasa Ramadhan karena iman dan mengharapkan pahala, diampuni dosanya yang telah lalu” (HR Bukhari dan Muslim)
b. Dikabulkannya do’a
“Sesungguhnya milik Allah-lah hamba-hamba yang dibebaskan dari neraka pada setiap hari dan malam pada bulan Ramadhan, dan sesungguhnya bagi setiap muslim terdapat doa yang dia berdoa dengannya lalu dikabulkan baginya”.
c. Termasuk dalam golongan “siddiqin” (orang-orang yang benar)
“Dari Amru bin Murrah Al juhni ia berkata : “Datang seorang laki-laki kepada Nabi”, lalu ia bertanya : “Wahai Rasulullah bagaimana pendapatmu jika saya bersaksi bahwa tiada sesembahan yang berhak disembah melainkan Allah, dan bahwasanya engkau adalah Rasulullah, dan saya mengerjakan shalat lima waktu, dan saya (juga) menunaikan zakat, dan saya berpuasa pada bulan Ramadhan dan menunaikannya, maka termasuk kelompok manakah aku ini? Beliau bersabda: “Termasuk dari kalangan siddiqin dan orang-orang yang mati syahid”. (HR Ibnu Hibban dan sanadnya shahih)
V. Ancaman bagi orang yang tidak berpuasa dengan sengaja
Dari Abu Umamah Al Bahili, ia berkata: saya mendengar Rasulullah bersabda : “Ketika saya tidur datang dua orang lelaki lalu ia memegang lenganku, lalu keduanya mendatangkan gunung besar padaku, kemudian keduanya berkata : “Naiklah!” maka aku katakan: “Aku tidak mampu menaikinya”. Lalu keduanya berkata: “Akan kami mudahkan bagimu menaikinya”. Lalu akupun menaikinya, hingga aku sampai pada puncak gunung tiba-tiba terdengar suara keras. Aku bertanya: “Suara apakah ini? Mereka menjawab: “Ini adalah lolongan penghuni neraka”. Lalu aku dibawa, tiba-tiba aku mendapati suatu kaum terbelenggu urat-urat mereka, robek rahang-rahang mereka, mengucur darah dari rahang-rahang mereka”. Ia berkata: Aku bertanya: “Siapa mereka itu?” ia menjawab: mereka adalah orang-orang yang tidak berpuasa sebelum selesai puasa mereka”. (HR Nasai, Ibnu Hibban)
VI. Hukum-Hukum Berpuasa
Hukum-hukum puasa sesuai dasar Al Qur’an dan Hadits-hadits Nabi yang shahih dan hasan adalah sebagai berikut:
a. Menghitung bulan sya’ban menjelang ramadhan
Sepatutnya bagi umat Islam untuk menghitung jumlah hari bilangan sya’ban untuk persiapan menghadapi bulan Ramadhan, karena bulan (dalam perhitungan tahun qamariah) ada yang 29 hari dan ada yang 30 hari. Maka hendaknya umat Islam berpuasa ketika melihat hilal, jika hilal tertutupi awan maka hendaknya umat Islam menentukan dan menyempurnakan bulan sya’ban menjadi 30 hari, karena Allah menciptakan langit dan bumi menjadikan tempat-tempat perjalanan bagi bulan agar manusia mengetahui perhitungan tahun, dan satu bulan itu tidak lebih dari 30 hari.
b. Wajibnya berniat pada malam hari
Jika telah pasti bulan Ramadhan datang, dengan terlihat oleh mata, atau persaksian, atau penyempurnaan bulan sya’ban menjadi tiga puluh hari, maka wajib bagi setiap muslim yang sudah terbebani untuk menjalankan syariat agama untuk berniat pada malam harinya, hal ini berdasarkan sabda Nabi: “Barangsiapa tidak berniat berpuasa pada malam hari maka tiada baginya puasa”(dikeluarkan Nasai dan Tirmidzi)
c. Kemampuan bergantung pada pembebanan
Barangsiapa mendapati bulan Ramadhan dan ia tidak mengetahui, lalu ia makan dan minum kemudian ia mengetahui, maka hendaknya ia menahan diri untuk tidak makan dan minum dan meneruskan puasa, dan puasanya dianggap sah. Dan barangsiapa yang belum makan maka hendaknya tidak makan, dan (dalam hal ini) menetapkan niat pada malam hari tidaklah menjadi syarat pada haknya karena ia tidak mampu, dan termasuk dari ushul syariah bahwa kemampuan itu bergantung pada pembebanan. (HR. Bukhari Muslim dari Aisyah, juga dari Salamah Bin Al Akhwaq)
VII. Waktu berpuasa
a. Tampaknya benang putih atas benang hitam
Ketika turun ayat: “Dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam”. (Al Baqarah: 187)
Rasulullah bersabda tentang ayat diatas:”Sesungguhnya yang dimaksud hal itu adalah gelapnya malam dan putihnya siang”. (HR Bukhari Muslim)
(Harus berhati-hati tentang pengertian fajar shodiq dan fajar kadzib. Fajar yang dijadikan patokan adalah fajar shodiq. Dari Ibnu Abbas ia berkata: Rasulullah bersabda: “Fajar itu ada dua, adapun yang pertama tidak mengharamkan makanan dan tidak menghalalkan shalat, adapun kedua maka mengharamkan makanan dan menghalalkan shalat. (Dikeluarkan oleh Ibnu Khuzaimah, Al Hakim, Daraqutni, Albaihaqi). Fajar Kadzib adalah warna putih memanjang bersinar diatas seperti ekor serigala. Fajar Shodiq adalah warna merah yang bersinar tersebar, yang melintang diatas puncak bukit-bukit dan gunung-gunung , tersebar dijalan-jalan, gang-gang, rumah-rumah, dan inilah yang berhubungan dengan hukum-hukum puasa dan shalat).
b. Menyempurnakan puasa hingga malam (berbuka)
Dan jika malam menghadap dari arah timur dan membelakangi siang dari arah barat, dan matahari tenggelam maka berbukalah. Dari Umar bin Khattab ia berkata, Rasulullah bersabda: “Jika malam menghadap dari sini, dan membelakangi dari sini. Dan matahari tenggelam maka orang yang berpuasa berbuka”. (Hadits riwayat Bukhari dan Muslim)
Menyegerakan berbuka mendatangkan kebaikan, Dari Sahl bin Sa’ad bahwasanya Rasulullah bersabda: “Senantiasa umatku dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka” (Hadits riwayat Bukhari dan Muslim)
Dari Anas bin Malik ia berkata: “Adalah Rasulullah berbuka dengan Rutab (kurma yang lembek) sebelum shalat, jika tidak terdapat rutab, maka beliau berbuka dengan tamr (kurma kering), maka jika tidak ada kurma kering beliau meneguk seteguk air”. (Hadits riwayat Ahmad dan Abu Dawud)
c. Waktu sahur dan hikmahnya
Sahur adalah perintah yang muakkad (kuat) dari rasulullah. Adapun sahur adalah pembeda puasa kaum muslim dengan ahli kitab yang dulu juga diwajibkan atasnya puasa (HR Muslim).
Sahur itu barakah. Dari Salman, ia berkata, Nabi bersabda: “Barakah itu terdapat dalam tiga perkara , Al jamaah, tepung Tsarid dan sahur”. (Hadits riwayat Thabrani)
Sesungguhnya Allah dan malaikatnya bershalawat atas orang yang berpuasa, Dari Abu Said Al Khudri ia berkata, Rasulullah bersabda: “Sahur adalah makanan berbarakah, maka janganlah kalian meninggalkannya walaupun hanya meminum seteguk air, karena sesungguhnya malaikat-Nya bershalawat atas orang-orang yang bersahur”. (Hadits riwayat Tirmidzi)
Dianjurkan mengakhirkan sahur hingga mendekati fajar, karena Nabi dan Zaid bin tsabit bersahur, tatkala selesai dari sahur keduanya, Nabi bangkit pergi untuk shalat, lalu beliau shalat, dan adalah waktu antara keduanya makan dan melaksanakan shalat seperti ukuran seseorang yang membaca 50 ayat Al Qur’an”.
Anas telah meriwayatkan dari Zaid bin Tsabit, bahwa ia berkata: “Kami bersahur bersama Nabi , lalu beliau bangkit untuk shalat”. Aku bertanya: “Berapa ukuran antara adzan dan sahur? Ia berkata: “Seukuran 50 ayat”. (Hadits riwayat Bukhari dan Muslim)

VIII. Apa Saja Yang Wajib Ditinggalkan Oleh Orang Yang Berpuasa
a. Perkataan dusta
Dari Abu Hurairah ia berkata, Rasulullah bersabda: “Barangsiapa tidak meninggalkan perkataan dusta dan melakukannya maka Allah tidak membutuhkan bahwa ia meninggalkan makanan dan minumannya”. (HR. Bukhari)
b. Berbuat yang sia-sia dan melakukan tindakan serta ucapan keji
Dari Abu Hurairah ia berkata, Rasulullah bersabda: “Bukanlah puasa itu puasa dari makan dan minum, sesungguhnya puasa itu adalah puasa dari perbuatan sia-sia dan keji, maka jika salah seorang mencelamu atau membodohkanmu maka katakanlah aku sedang berpuasa, aku sedang berpuasa”. (HR Ibnu Huzaimah dan Hakim dengan sanad shahih)
IX. Apa Saja Yang Diperbolehkan Bagi Orang Yang Berpuasa
a. Orang yang sedang berpuasa diwaktu subuh dalam keadaan Junub
Dari Aisyah dan Umu Salamah: “Bahwasanya Nabi dalam keadaan junub diwaktu subuh karena habis berkumpul dengan keluarga beliau lalu beliau mandi dan berpuasa”. (HR Bukhari dan Muslim)
b. Bersiwak bagi orang yang berpuasa
Rasulullah bersabda: “Kalaulah tidak memberatkan atas umatku tentulah akan aku perintahkan mereka untuk bersiwak pada setiap kali wudhu”. (HR Bukhari dan Muslim)
c. Berkumur dan menghirup air kehidung
Karena dahulu Rasulullah berkumur dan menghirup air kehidung dalam keadaan berpuasa , akan tetapi beliau melarang orang yang sedang berpuasa untuk berlebih-lebihan.
“…dan bersungguh-sungguhlah dalam menghirup kecuali jika dalam keadaan berpuasa”. (HR. tirmidzi, Abu Daud, dll)
d. Bersentuhan dan berciuman bagi orang yang sedang berpuasa
Disebutkan dalam hadits dari Aisyah bahwa ia berkata: “Adalah Rasulullah dahulu mencium sedang beliau dalam keadaan berpuasa, akan tetapi beliau adalah orang yang paling mampu menguasai dirinya”. (HR. Bukhari dan Muslim)
Dan hal ini makruh (dibenci) bagi pemuda, dan tidak makruh untuk orang yang sudah tua. Diriwayatkan dari Amru bin Ash, ia berkata: “Dahulu tatkala kami bersama Nabi datang seorang pemuda, lalu ia berkata : “Wahai Rasulullah apakah saya (boleh) mencium sedang saya dalam keadaan berpuasa? Beliau berkata: “Tidak”. Lalu datanglah seorang yang sudah tua, bertanya: “Apakah saya boleh mencium sedang saya dalam keadaan berpuasa? Beliau menjawab : “Ya”. Amru bin Ash berkata: “lalu sebagian kami melihat sebagian lainnya”, maka Rasulullah bersabda : “Sesunggunya orang yang sudah tua mampu menguasai dirinya”. (Dikeluarkan Ahmad)
e. Donor darah dan suntik yang tidak dimaksudkan memberi zat makanan.
f. Berbekam
“Bahwasanya Nabi berbekam sedang beliau dalam keadaan berpuasa”. (Hadits riwayat Bukhari)
g. Merasakan makanan
Dan hal ini dibatasi dengan tidak masuk kerongkongan, sebagaimana disebutkan dari Ibnu Abbas ia berkata: “Tidak mengapa seseorang merasakan makanan atau sesuatu selama tidak masuk kerongkongan sedang ia dalam keadaan berpuasa”.
h. Bercelak dan meneteskan sesuatu kemata
Hal-hal yang demikian tidak membatalkan puasa, baik sesuatu yang masuk mata itu masuk kerongkongan maupun tidak masuk. Pendapat inilah yang dikuatkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam tulisan beliau yang bermanfaat “Hakikatus Shiyam” dan murid beliau Ibnul Qayyim Al Jauziyah dalam kitabnya “Zaadul Ma’ad” dan Imam Bukhari berkata dalam shahih Bukhari.

i. Menuangkan air dingin diatas kepala dan mandi
Berkata Imam Bhukari dalam shahih beliau: “Bab Mandinya orang yang sedang berpuasa”, dan Ibnu Umar radhiyallahuanhuma membasahi pakaian, lalu ia meletakkannya diatasnya. Dan As Sa’bi memasuki kamar mandi sedang ia dalam keadaan berpuasa, dan berkata Al Hasan: “Tidak mengapa berkumur dan berdingin-dingin bagi orang yang sedang berpuasa
X. Allah Menghendaki Kemudahan Bagimu
a. Orang yang sedang bepergian
“Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu”. (Al Baqarah: 185)
Bertanya Hamzah bin Amru Al Aslami kepada Rasulullah: “Apakah saya berpuasa di perjalanan ? (dan Hamzah ini adalah sahabat yang banyak berpuasa), maka Rasulullah bersabda: “Berpuasalah jika engkau mau dan berbukalah jika engkau mau?” (Hadits riwayat Bukhari dan Muslim)
b. Orang yang sakit
Allah membolehkan bagi orang yang sakit untuk tidak berpuasa sebagagai rahmat darinya, dan kemudahan baginya. Dan sakit yang diperbolehkan untuk tidak berpuasa adalah yang mengakibatkan (bersama puasa) bahaya bagi jiwa,atau bertambahnya penyakit baginya, atau dikhawatirkan terlambatnya kesembuhan, dan wallahu a’alam
c. Wanita yang haid dan nifas
Ahli ilmu bersepakat bahwa wanita yang sedang haid dan nifas tidak dihalalkan baginya berpuasa, dan harus meng-qadha’nya di hari lain.
d. Orang yang sudah lanjut usia dan wanita yang sudah tua
Berkata Ibnu Abbas semoga Allah meridhainya: “Orang yang lanjut usia dan perempuan tua yang tidak mampu berpuasa hendaknya memberi makanan setiap hari satu orang miskin”.

Dari Abu Hurairah: “Barangsiapa yang sudah berusia lanjut dan tidak mampu berpuasa Ramadhan, maka wajib baginya (menyedahkan) satu mud dari gandum tiap hari”. (dikeluarkan Daraqutni)

Dari Anas bin Malik: “bahwasanya suatu tahun ia lemah untuk berpuasa,maka ia membuat satu mangkuk tepung tsarid dan memanggil 30 orang miskin dan ia mengenyangkan mereka”. (dikeluarkan Daraqutni dan sanadnya shahih)

e. Wanita yang hamil dan menyusui
Dari besarnya rahmat Allah kepada hamba-Nya yang lemah bahwasanya Allah meringankan bagi mereka untuk tidak berpuasa, dan termasuk dari golongan hamba-Nya yang lemah adalah wanita hamil dan menyusui . Dari Anas bin Malik (ia adalah Al Ka’bi dan bukan Anas bin Malik Al Ansari, pelayan Rasulullah, ia dari bani Abdullah bin Ka’ab, ia tinggal di Basrah da meriwayatkan dari Nabi satu ahdits saja, yaitu hadits ini) ia berkata: “Kuda Rasulullah berjalan kepada kami, lalu aku datangi Rasulullah, maka aku dapati beliau sedang makan siang. Lalu beliau berkata : “Kemarilah dan makanlah”, maka aku katakan: “Saya sedang berpuasa”. Lalu beliau berkata: “Mendekatlah kemari, akan aku ceritakan kepadamu tentang puasa; sesungguhnya Allah tabaraka wata’ala meletakkan (hukum) bagi musafir (orang yang sedang bepergian) setengah shalat, dan bagi orang yang hamil dan menyusui puasa. Demi Allah sungguh Nabi telah mengatakan keduanya atau salah satu dari keduanya, oh mengapa aku tidak makan makanan Nabi (pada saat itu).(Hadits riwayat Tirmidzi, Nasai, Abu Daud dan Ibnu Majah).
XI. Doa Apa Yang Dibaca Ketika Berbuka
Dari Abu Hurairah dari Nabi: “Ada tiga hal yang tidak tertolak doa mereka : orang yang berpuasa hingga ia berbuka, dan imam yang adil, dan doa orang yang terdholimi”. (Hadits riwayat Tirmidzi, Ibnu Majah, Ibnu Hibban)
Dan doa yang paling utama adalah doa Nabi yang mana beliau berdoa dengan doa ini ketika berbuka: “Telah hilang haus dahaga, dan telah terbasahi kerongkongan, dan telah tetap pahalanya insya Allah”. (Hadits riwayat Abu Daud, Baihaqi, dan hakim dll)
XII. Memberi Makanan Orang Yang Berpuasa
Rasulullah bersabda :
“Barangsiapa memberi buka puasa kepada orang yang sedang berpuasa maka ia mendapatkan pahala seperti pahalanya orang yang berpuasa dengan tidak mengurangi pahala orang berpuasa sedikitpun”. (Hadits riwayat Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ibnu Hibban dan menshahihkannya Tirmidzi).
XIII. Hal-Hal Yang Merusakkan Puasa
a. Makan dan minum secara sengaja
“Jika seseorang lupa lalu makan dan minum maka hendaklah menyempurnakan puasanya, karena sesungguhnya Allah telah memberi makan dan minum kepadanya”. (Hadits riwayat Bukhari dan Muslim)
b. Menyengaja untuk muntah
Karena barangsiapa yang muntah tidak sengaja tidak mengapa. Rasulullah bersabda: “Barangsiapa muntah dengan tidak disengaja maka ia tidak wajib mengganti puasanya, dan barangsiapa yang sengaja untuk memuntahkan hendaknya mengganti puasanya”. (Hadist riwayat Abu Daud, Tirmidzi dan Ibnu Majah).
c. Haid dan Nifas
Jika perempuan haid atau nifas pada siang hari baik awal siang ataupun pada akhir siang (sore) maka batal puasanya, Rasulullah bersabda: “Bukankah jika perempuan haid tidak shalat dan tidak berpuasa? Mereka (wanita-wanita ) berkata: “Benar” lalu Nabi berkata: “Itulah dua kekurangan agama kaum wanita”. (HR.Bukhari)
d. Suntikan gizi
Yaitu memasukkan sebagian zat-zat gizi makanan ke usus dengan maksud memberi gizi sebagian orang yang sakit, hal ini adalah satu macam perbuatan yang membatalkan puasa karena memasukkan kedalam rongga. Dan jika suntikan tidak mencapai usus dan hanya mencapai darah maka juga membatalkan puasa, karena hal ini keadaannya seperti makanan dan minuman.
e. Jima’ (melakukan hubungan suami istri)
Berkata Ibnul Qoyyim dalam kitab “Zaadul Maad” 2/60: Al Qur’an menunjukkan bahwa jima’ membatalkan puasa seperti makan dan minum, (hal ini) tidak diketahui adanya perselisihan padanya”.


XIV. Mengqadha (mengganti puasa)
a. Diperbolehkannya mengakhirkan dalam mengganti puasa Ramadhan
Mengqadha (mengganti) puasa Ramadhan tidak wajib dilakukan dengan segera, sesungguhnya hal ini luas dilaksanakannya, sebagaimana hadits riwayat Aisyah: “Adalah aku punya hutang puasa Ramadhan, tidaklah aku mampu menggantinya kecuali pada bulan sya’ban”. (Hadits riwayat Bukhari dan Muslim)
b. Tidak wajib dikerjakan secara berturut-turut
Berdasarkan firman Allah: “Maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain”. (Al Baqarah: 185)
Berkata Ibnu Abbas: “Tidak mengapa untuk disela-selahi dalam mengganti puasa Ramadhan”. (Hadits riwayat Bukhari, dan Bukhari tidak menyebutkan sanadnya, dan dijelaskan sanadnya oleh Abdurrazaq, Daraqutni,dan Ibnu Abi Saibah dengan sanad shahih)
c. Barangsiapa yang meninggal dan ia mempunyai nadzar berpuasa
Barangsiapa yang meninggal dan ia mempunyai puasa nadzar maka walinya mengganti puasanya, berdasarkan sabda Rasulullah: “Barangsiapa yang meninggal dan ia mempunyai hutang puasa maka walinya menggantikannya”. (Hadits riwayat Bukhari dan Muslim)
Dan dari Ibnu Abbas ia berkata, datang seorang lelaki kepada Nabi lalu bertanya: “Wahai Rasulullah sesungguhnya ibuku meninggal dan ia mempunyai hutang puasa sebulan, apakah aku harus menggantikannya berpuasa? Nabi menjawab: “”ya”, hutang kepada Allah lebih berhak untuk dibayar”. (Hadits Bukhari dan Muslim)
Adapun cara menggantikannya adalah dengan berpuasa sejumlah hari hutang bila itu puasa nadzar, adapun untuk puasa ramadhan bisa diganti dengan fidyah. Begitu pendapat yang shahih dari jumhur ulama.
d. Memberi makan
Dan barangsiapa yang meninggal dan ia mempunyai hutang puasa nadzar dan digantikan oleh beberapa orang lelaki untuk mengganti puasanya mayit maka diperbolehkan, berkata Al Hasan Al Basri: “”Jika mengganti puasa mayit itu 30 orang lelaki dan setiap orang berpuasa satu hari maka diperbolehkan”.(Bukhari)
Adapun memberi makan jika wali mayit mengumpulkan orang-orang miskin sejumlah hari hutang puasa mayit dan mengenyangkan mereka maka diperbolehkan. Demikianlah yang dilakukan Anas bin Malik.
XV. Kaffarah (tebusan karena melakukan pelanggaran)
a. Kaffarah karena jima, secara berurutan
Kaffarah seorang yang melanggar puasa karena jima (pada siang hari bulan Ramadhan) adalah: membebaskan budak, jika tidak terdapat budak maka puasa dua bulan berturut-turut, jika tidak mampu maka memberi makan 60 orang miskin.
b. Orang yang lemah gugur kaffarahnya
c. Wanita tidak wajib melaksanakan kaffarah
Kaffarah tidak wajib bagi perempuan, karena Nabi diberitahu tentang perbuatan yang terjadi antara seorang lelaki dan perempuan, dan beliau tidak mewajibkan kecuali satu kaffarah saja (yaitu kepada laki-laki).
(Hadist yang diriwayatkan Abu Hurairah)
**************************************************************************************
Maraji':
Diringkas dari kitab “Shifat Shaum Nabi fii Ramadhan”. Syaikh Ali Hasan dan Syaikh Salim Al-Hilali
Baca juga: “Zaadul Ma’ad”, Ibnul Qayyim Al-jauziyah; “Minhajul Qhasidin”, Ibnu Qudamah; dll.

Disampaikan pada pengajian akhowat KPII-UNSW, 2 Oktober 2005. Naning Tri Wahyuni. Menjelang ramadhan. Sydney Oct ’05

0 Comments:

Post a Comment

<< Home